
Tim ilmuwan Rusia kembangkan sistem nanopartikel yang memungkinkan pengobatan melanoma secara oral

Ilustrasi. (Towfiqu barbhuiya on Unsplash)
Nanopartikel berbasis gelatin dan kitosan dapat melindungi obat antikanker agar tidak hancur di saluran pencernaan, yang berpotensi memungkinkan pengobatan oral yang efektif dalam bentuk tablet untuk melanoma agresif.
St. Petersburg, Rusia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan Rusia mengembangkan nanopartikel untuk melindungi obat antikanker agar tidak hancur di saluran pencernaan, yang berpotensi memungkinkan pengobatan oral yang efektif dalam bentuk tablet untuk melanoma agresif, demikian dilaporkan media lokal pada Rabu (26/11).Nanopartikel tersebut berbasis gelatin dan kitosan (chitosan), lapor kantor berita TASS, mengutip layanan pers Universitas Politeknik St. Petersburg Petrus yang Agung (Peter the Great).Formulasi nano yang baru diciptakan ini membuat obat dapat mencapai usus dalam keadaan utuh dan diserap secara efisien, sehingga menawarkan alternatif menjanjikan bagi terapi melanoma saat ini yang biasanya memerlukan pemberian intravena, papar layanan pers tersebut.Dalam eksperimen pada tikus yang mengidap melanoma solid, pemberian oral senyawa yang menggunakan formulasi baru ini dapat menekan pertumbuhan tumor sebesar 88 hingga 95 persen dibandingkan dengan kelompok kontrol, ungkap Sergei Shipilovskikh, seorang peneliti utama di Laboratorium Nano- dan Mikroenkapsulasi Zat Aktif Biologis (Laboratory of Nano- and Microencapsulation of Biologically Active Substances) di universitas tersebut.Shipilovskikh menambahkan bahwa dalam sebuah model melanoma metastasis yang memengaruhi paru-paru, bentuk nano obat ini mengurangi pembentukan metastasis sebesar 82 persen.Dengan menggunakan metode pelacakan khusus, para ilmuwan mengonfirmasi bahwa nanopartikel ini tidak hancur di lambung dan berhasil mencapai usus, bertahan cukup lama untuk mengantarkan obat ke area-area target, urai layanan pers universitas itu.Serangkaian tes pada organ internal dan sampel darah hewan laboratorium tidak menunjukkan efek samping yang serius, sehingga mengonfirmasi keamanan pengobatan baru tersebut, kata laporan itu.Pihak layanan pers itu menambahkan bahwa strategi yang dikembangkan ini membuka prospek baru untuk menciptakan obat oral yang efektif dan aman untuk terapi kanker tertarget.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Seni gua tertua di dunia ditemukan di Sulawesi
Indonesia
•
22 Jan 2026

Perubahan iklim dorong deteksi DNA teritip invasif di Arktik Kanada
Indonesia
•
15 Sep 2025

Indonesia punya 6,3 juta hektare tanah hitam, tapi terancam hilang
Indonesia
•
17 Dec 2024

Sistem pemantauan proses daur ulang kurangi sampah plastik di Taiwan
Indonesia
•
05 Oct 2022


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
