
Sel surya perovskit terbaru hasilkan efisiensi fotokonversi tinggi sebesar 27,2 persen

Foto dari udara yang diabadikan pada 6 Juni 2024 ini menunjukkan sistem fotovoltaik surya di atas sebuah koridor di kawasan industri emisi karbon dioksida rendah (nol) di Sheyang, Yancheng, Provinsi Jiangsu, China timur. (Xinhua/Yang Lei)
Oksalat logam alkali melepaskan ion-ion kalium yang secara kuat terikat pada ion klorida, sehingga secara efektif menekan migrasi ion klorida yang tidak terkendali dan mendukung distribusi yang merata di seluruh lapisan perovskit.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti dari Institut Semikonduktor di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) mencapai terobosan dalam teknologi sel surya perovskit, membuka jalan bagi penerapan komersialnya, lapor Science and Technology Daily pada Senin (10/11).Prototipe yang baru dikembangkan ini mencapai efisiensi fotokonversi yang tinggi sebesar 27,2 persen serta menunjukkan stabilitas operasional yang meningkat secara signifikan. Temuan tersebut telah dipublikasikan baru-baru ini di dalam jurnal Science.Produksi film perovskit berkualitas tinggi sangat penting untuk meningkatkan efisiensi sel surya. Meskipun metilammonium klorida umum digunakan untuk membantu pertumbuhan film, kajian mengungkap adanya masalah: selama kristalisasi, ion-ion klorida cenderung bermigrasi dan menumpuk di dekat permukaan atas, sehingga menyebabkan distribusi vertikal klorin yang tidak merata. Ketidakmerataan ini berdampak negatif terhadap kinerja maupun stabilitas jangka panjang.Guna mengatasi masalah tersebut, tim peneliti menggunakan oksalat logam alkali selama pembentukan film. Ion-ion kalium yang dilepaskan oleh oksalat secara kuat terikat pada ion klorida, sehingga secara efektif menekan migrasi ion klorida yang tidak terkendali dan mendukung distribusi yang merata di seluruh lapisan perovskit.Sel surya yang diproduksi dengan film yang dioptimalkan ini mencapai efisiensi tersertifikasi sebesar 27,2 persen. Sel-sel surya tersebut juga menunjukkan stabilitas yang sangat baik, mempertahankan 86,3 persen efisiensi awalnya setelah dioperasikan selama 1.529 jam secara kontinu dan 82,8 persen efisiensi awalnya setelah dioperasikan selama 1.000 jam dalam kondisi penuaan yang dipercepat pada suhu 85 derajat Celsius dengan pencahayaan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Penelitian Australia ungkap pengurutan genom dapat selamatkan lebih banyak nyawa bayi baru lahir
Indonesia
•
11 Oct 2025

Modul laboratorium China Mengtian berhasil lakukan ‘docking’ dengan stasiun luar angkasa
Indonesia
•
01 Nov 2022

Pakaian antariksa baru untuk ‘extravehicular’ tingkatkan kenyamanan dan kemudahan bagi astronaut
Indonesia
•
01 Nov 2025

COVID-19 – Kementerian teliti fukoidan kandungan alga untuk tingkatkan imun
Indonesia
•
03 Oct 2021


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
