
Openai rilis model AI unggulan baru GPT-5

Tanda AI terlihat di acara Mobile World Congress 2025 di Barcelona, Spanyol, pada 6 Maret 2025. (Xinhua/Zhao Dingzhe)
OpenAI menggambarkan GPT-5 sebagai model paling cerdas dan tercepat hingga saat ini, dengan penyempurnaan yang signifikan dalam pemrograman, penulisan, dan pelaksanaan tugas-tugas kompleks.
San Francisco, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – OpenAI pada Kamis (7/8) meluncurkan GPT-5, model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) unggulan baru mereka yang akan menjadi dasar untuk chatbot ChatGPT generasi berikutnya.Dalam sebuah acara yang disiarkan secara langsung, OpenAI menggambarkan GPT-5 sebagai model paling cerdas dan tercepat hingga saat ini, dengan penyempurnaan yang signifikan dalam pemrograman, penulisan, dan pelaksanaan tugas-tugas kompleks.Dalam konferensi pers, CEO OpenAI Sam Altman menyebut GPT-5 sebagai "model terbaik di dunia" dan menggambarkannya sebagai "langkah signifikan" dalam perjalanan perusahaannya menuju pengembangan kecerdasan buatan umum.Sistem ini kini tersedia untuk semua pengguna ChatGPT, dengan akses yang lebih luas tersedia bagi pengguna berbayar. Dengan biaya 200 dolar AS per bulan, paket Pro memberikan penggunaan tak terbatas dan peningkatan kinerja untuk setiap pengguna.*1 dolar AS = 16.312 rupiahNamun, seorang juru bicara perusahaan mengakui dalam sebuah laporan bahwa masih ada "keterbatasan utama dalam area-area seperti persistent memory (PMem), otonomi, dan adaptabilitas antar tugas."Seperti diungkapkan dalam laporan TechCrunch, "GPT-5 tampaknya setara dengan model AI terdepan lainnya di beberapa area. Masih belum dapat dipastikan bagaimana pengembang akan menggunakan GPT-5 di dunia nyata, dan apakah model ini benar-benar unggul dari pesaingnya."ChatGPT kini mencapai lebih dari 700 juta pengguna per pekan. GPT-5 tersedia secara gratis untuk semua pengguna, sementara langganan berbayar menikmati batas penggunaan yang lebih tinggi dan akses ke GPT-5 Pro, menurut OpenAI.Peluncuran GPT-5 juga menimbulkan pertanyaan baru bagi bisnis yang berusaha melindungi konten mereka agar tidak digunakan atau direplikasi oleh AI."Seiring perkembangan konten AI yang semakin menyerupai asli, kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah melindungi orang-orang dan kreativitas di balik apa yang kita lihat sehari-hari?" ujar Grant Farhall, kepala bagian produk di Getty Images, kepada BBC. "Keaslian itu penting, namun tidak gratis."Farhall mengatakan penting untuk memeriksa bagaimana model AI dilatih dan memastikan pembuat konten diberi kompensasi saat karya mereka digunakan.Awal pekan ini, pesaingnya Anthropic meluncurkan versi terbaru dari chatbot Claude-nya, bergabung dengan Google dan pesaing lainnya dalam persaingan untuk saling mengungguli dalam tolok ukur performa AI.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Studi: X-ray dengan kecerdasan buatan bisa deteksi kanker paru-paru
Indonesia
•
14 Feb 2023

Proyek pertukaran untuk berdayakan peneliti muda global diprakarsai di China
Indonesia
•
23 Oct 2024

Beijing targetkan kapasitas komputasi 200.000 PFLOP pada 2027 untuk dorong pertumbuhan AI
Indonesia
•
23 Jan 2026

Sektor pengguna energi penyumbang terbesar emisi karbon Indonesia
Indonesia
•
13 Dec 2019


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
