
Opini – AS hanya inginkan ‘bawahan setia’ bukan ‘sekutu’ (Bagian 2 - selesai)

Seorang pengunjuk rasa memegang sebuah poster di Taman Funairi Daiichi Hiroshima dalam aksi protes menentang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok Tujuh (Group of Seven/G7) di Hiroshima, Jepang, pada 19 Mei 2023. (Xinhua/Zhang Xiaoyu)
Menolak menjadi pion
Menolak menjadi pion dalam perselisihan geopolitik Washington, para pengunjuk rasa Jepang berkumpul untuk memprotes Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok Tujuh (Group of Seven/G7) di Hiroshima, Jepang, seraya memegang poster bertuliskan "AS keluar dari Asia Pasifik". Sejumlah cendekiawan Australia menandatangani surat terbuka yang menyuarakan kekhawatiran atas partisipasi Australia dalam AUKUS.Mantan menteri luar negeri (Menlu) Australia Bob Carr mengatakan Canberra membutuhkan AS dengan "peran kreatif" di kawasan itu, bukan negara yang "terobsesi dengan keunggulan dan dominasinya."Gelombang rekonsiliasi, yang diwakili oleh kembalinya Suriah ke Liga Arab, melanda seluruh Timur Tengah, saat negara-negara Arab menyadari bahwa campur tangan AS atas nama sekutu hanya menjerumuskan kawasan itu ke dalam ketidakstabilan dan kekacauan."Kami terus meyakini bahwa kami tidak akan menormalisasi hubungan kami dengan rezim Assad, dan kami juga tidak mendukung sekutu dan mitra kami melakukan hal itu," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Vedant Patel, sekali lagi mengungkap apa yang sebenarnya diinginkan AS adalah bawahan, bukan sekutu.Praktik hegemonik dan mentalitas permainan menang-kalah (zero-sum game) AS menciptakan konfrontasi serta perpecahan dalam isu-isu regional dan internasional, yang secara serius merusak kepentingan pembangunan sekutu-sekutunya.Pemerintahan Biden "acuh tak acuh terhadap kekhawatiran para sekutu Arabnya, membuat keputusan sepihak mengenai hal-hal penting regional tanpa berkonsultasi dengan mereka," demikian disampaikan dalam sebuah laporan yang diterbitkan oleh Pusat Studi Al Jazeera, berjudul "Timur Tengah: Dari satu dekade konflik menuju era rekonsiliasi" (The Middle East: From a decade of conflict to an age of reconciliation)."Otonomi strategis" menjadi kata populer di seluruh Eropa, dengan para ahli dan orang dalam politik menyadari bahwa AS tidak pernah ingin melihat Eropa yang bersatu dan otonom.Mendukung dorongan Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk "otonomi strategis" dari AS, Presiden Dewan Eropa Charles Michel mengatakan "jika aliansi dengan Amerika Serikat ini mengasumsikan bahwa kita secara membabi buta, secara sistematis mengikuti sikap Amerika Serikat dalam semua isu, itu tidak (benar)."SelesaiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Jumlah kasus cacar monyet di Spanyol naik jadi 48 dengan 11 kasus baru
Indonesia
•
25 May 2022

Sebagian warga Taiwan di Ukraina tetap tinggal meskipun ada peringatan
Indonesia
•
14 Feb 2022

Tanggapi mundurnya PM Palestina, PBB sebut ingin melihat pemerintahan Palestina kuat dan berdaya
Indonesia
•
28 Feb 2024

UNGA adopsi resolusi yang tuntut gencatan senjata kemanusiaan segera di Gaza
Indonesia
•
13 Dec 2023


Berita Terbaru

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026

Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4, korban tembus 111 orang
Indonesia
•
11 Aug 2026
