Studi sebut paparan cahaya buatan di malam hari berpotensi picu depresi

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 4 Juni 2025 ini menunjukkan pemandangan malam hari di tepi Sungai Haihe di Tianjin, China utara. (Xinhua/Zhao Zishuo)
Paparan berkepanjangan terhadap cahaya buatan di malam hari dapat memicu perilaku menyerupai depresi dengan mengaktifkan jalur saraf tertentu di dalam otak.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi baru mengungkap bahwa paparan berkepanjangan terhadap cahaya buatan di malam hari dapat memicu perilaku menyerupai depresi dengan mengaktifkan jalur saraf tertentu di dalam otak.Studi tersebut dilakukan pada beberapa ekor tikus shrew pohon, mamalia diurnal yang secara genetik dekat dengan primata. Studi ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana cahaya di malam hari dapat mengganggu pengaturan suasana hati atau mood. Hasilnya telah dipublikasikan di dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.Tim peneliti dalam studi tersebut, yang dipimpin oleh para peneliti dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China, Institut Zoologi Kunming yang berada di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China, dan Universitas Hefei, memapari tikus shrew pohon dengan cahaya biru selama dua jam setiap malam selama tiga pekan. Setelah periode paparan tersebut, hewan-hewan itu kemudian menunjukkan gejala jelas yang menyerupai depresi, termasuk penurunan preferensi terhadap sukrosa sebesar 20 persen, berkurangnya perilaku eksploratif, dan gangguan pada memori jangka panjang.Menggunakan teknik pelacakan saraf yang canggih, para peneliti mengidentifikasi sirkuit visual yang sebelumnya belum pernah dipetakan. Sel-sel ganglion retina khusus terungkap mengirimkan sinyal secara langsung ke nukleus perihabenular (pHb), yang kemudian memproyeksikan sinyal tersebut ke nukleus accumbens, pusat utama di dalam otak yang berperan dalam pengaturan mood.Secara khusus, ketika neuron pHb diredam secara kimiawi, tikus itu tidak lagi menunjukkan perilaku yang menyerupai depresi sebagai respons terhadap paparan cahaya di malam hari. Analisis lebih lanjut melalui teknik pengurutan RNA (RNA sequencing) mengungkap bahwa perubahan tersebut berkorelasi dengan aktivitas gen-gen yang berkaitan dengan depresi, sehingga mengindikasikan adanya potensi dampak jangka panjang.Seiring dengan makin meluasnya polusi cahaya dan paparan layar dalam kehidupan modern, penelitian ini memunculkan pertanyaan penting mengenai dampak pencahayaan buatan terhadap kesehatan psikologis dan implikasinya terhadap gaya hidup modern."Temuan-temuan ini memberikan kita peringatan sekaligus peta jalan," ujar Yao Yonggang, seorang profesor di Institut Zoologi Kunming. "Cahaya yang sama yang bisa membuat kita tetap produktif di malam hari mungkin secara halus membentuk ulang sirkuit otak yang mengatur mood, tetapi sekarang kita tahu ke mana harus mencari solusinya."Temuan ini membuka jalan baru bagi intervensi terarah yang dapat mengurangi dampak psikologis dari cahaya buatan, sekaligus tetap mempertahankan manfaatnya bagi masyarakat, kata studi tersebut.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Tim ilmuwan China ekstraksi inti es terpanjang di dunia di luar kawasan kutub
Indonesia
•
30 Oct 2024

Korea Selatan luncurkan satelit navigasi untuk tingkatkan akurasi GPS
Indonesia
•
23 Jun 2022

Tiga astronaut Shenzhou-14 China mendarat di Bumi dengan selamat
Indonesia
•
05 Dec 2022

Peneliti China kembangkan ‘shape memory polymer’ cetak 4D untuk perangkat medis
Indonesia
•
03 Mar 2023
Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
