Terapi suara non-invasif tingkatkan harapan bagi pengobatan Alzheimer

Ilustrasi. (Robina Weermeijer on Unsplash)
Terapi suara yang sederhana dan non-invasif dapat menghasilkan perubahan biologis yang signifikan dan bertahan sangat lama pada monyet tua, menawarkan harapan baru terkait pengobatan fisik potensial untuk penyakit Alzheimer.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim ilmuwan China menunjukkan bahwa terapi suara yang sederhana dan non-invasif dapat menghasilkan perubahan biologis yang signifikan dan bertahan sangat lama pada monyet tua, menawarkan harapan baru terkait pengobatan fisik potensial untuk penyakit Alzheimer.Penelitian yang telah dipublikasikan dalam edisi terbaru jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) itu dipimpin oleh para peneliti dari Institut Zoologi Kunming (Kunming Institute of Zoology/KIZ) yang dinaungi Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences).Upaya penelitian ini berfokus pada penggunaan nada auditori berfrekuensi 40 hertz, yang setara dengan dengungan rendah dalam rentang pendengaran manusia. Penelitian sebelumnya pada tikus telah menunjukkan bahwa stimulasi berfrekuensi 40 hertz dapat membantu menyingkirkan protein beracun terkait Alzheimer dari otak, dan penelitian terbaru ini memberikan bukti penting pertama yang berasal dari primata nonmanusia.Pada penyakit Alzheimer, sebuah protein yang dikenal sebagai beta-amyloid cenderung menumpuk dan membentuk plak, sehingga merusak sel otak dan mengganggu daya ingat dan fungsi kognitif. Biasanya, otak membersihkan limbah semacam itu melalui cairan serebrospinal (cerebrospinal fluid/CSF).Tim dalam penelitian ini meneliti sembilan ekor monyet rhesus tua, yang otaknya secara alami mengalami plak serupa Alzheimer, menjadikan hewan itu model yang sangat relevan untuk meneliti kondisi pada manusia. Monyet-monyet tersebut diperdengarkan nada berfrekuensi 40 hertz selama sejam setiap hari dalam sepekan.Hasilnya begitu mencengangkan. Kadar protein utama terkait Alzheimer pada CSF monyet-monyet tua tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat setelah periode pengobatan itu. Ini berarti lebih banyak limbah berhasil disingkirkan."Hal yang paling menakjubkan adalah efek itu bertahan lama. Saat kami melakukan pengukuran lima pekan usai pengobatan suara itu berakhir, perubahan yang bermanfaat tersebut tidak memudar," urai Hu Xintian, seorang peneliti di KIZ.Terapi obat yang saat ini telah disetujui untuk penyakit Alzheimer, meski efektif bagi beberapa pasien, berpotensi menimbulkan risiko seperti pembengkakan otak dan juga berbiaya tinggi. Sebaliknya, stimulasi auditori berfrekuensi 40 hertz mewakili intervensi fisik yang aman dan berbiaya rendah, papar Hu."Efek jangka panjang yang kami amati pada primata mendukung pengembangan pendekatan lunak ini sebagai terapi masa depan untuk Alzheimer," imbuh Hu.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Studi: Panas lautan dunia capai rekor tertinggi
Indonesia
•
16 Feb 2023

Fosil spesies galeaspida ‘berekor sembilan’ ditemukan di China selatan
Indonesia
•
19 Apr 2023

Ilmuwan Rusia kembangkan perangkat lunak yang manfaatkan panas buangan panel surya untuk desalinasi
Indonesia
•
29 Nov 2025

COVID-19 – Rusia garap vaksin gabungan lawan virus corona dan flu
Indonesia
•
22 Oct 2020
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
