
PBB: Dunia harus tingkatkan investasi sektor energi terbarukan hingga tiga kali lipat

Foto dari udara yang diabadikan pada 8 Juni 2022 ini menunjukkan lokasi konstruksi proyek fotovoltaik satu juta kilowatt di wilayah Gonghe, Prefektur Otonom Etnis Tibet Hainan, Provinsi Qinghai, China barat laut. (Xinhua/Zhang Long)
Investasi sektor energi terbarukan di tingkat global harus ditingkatkan hingga tiga kali lipat pada 2050 mendatang, guna menempatkan dunia tetap berada di jalur menuju nol emisi karbon (net zero emissions).
Jenewa, Swiss (Xinhua) – Investasi global dalam sektor energi terbarukan harus ditingkatkan hingga tiga kali lipat pada 2050 mendatang, guna menempatkan dunia tetap berada di jalur menuju nol emisi karbon (net zero emissions), menurut laporan terbaru yang dirilis oleh Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) pada Selasa (11/10).Pasokan listrik dari sumber-sumber energi bersih harus digandakan dalam kurun waktu delapan tahun ke depan, jika tidak keamanan energi global dapat runtuh, kata laporan itu.Menurut laporan Kondisi Layanan Iklim 2022 (2022 State of Climate Services report) WMO, perubahan iklim menempatkan keamanan energi global dalam bahaya. Dampak perubahan iklim, seperti cuaca ekstrem yang lebih sering terjadi dan lebih intens, memengaruhi langsung pasokan bahan bakar, produksi energi, dan infrastruktur energi.Kendati sumber daya air tidak mencukupi dalam skala global, faktanya 87 persen listrik global yang dihasilkan dari sistem termal, nuklir, dan hidroelektrik pada 2020 bergantung langsung pada ketersediaan air. Sekitar 33 persen dari pembangkit listrik termal yang mengandalkan air tawar untuk pendinginan berada di daerah-daerah dengan tingkat kerawanan air (water stress area) yang tinggi, begitu juga 15 persen dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang ada saat ini. Angka tersebut berpotensi meningkat menjadi 25 persen dalam 20 tahun ke depan.
Orang-orang beraktivitas di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang dipasangi panel surya di atapnya di Nakuru County, Kenya, pada 29 September 2022. (Xinhua/Sheikh Maina)
Warga desa bernama Caroline terlihat di sebuah ladang jagung yang dilanda kekeringan di sublokasi Kidemu di Kilifi County, Kenya, pada 23 Maret 2022. (Xinhua/Dong Jianghui)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

PDB di zona euro naik 0,3 persen pada Q2 2024
Indonesia
•
31 Jul 2024

BAM Cargo tautkan seluruh Kalimantan, layani masyarakat dengan cepat dan amanah
Indonesia
•
08 Jan 2024

Bank Dunia kucurkan 1 miliar dolar AS lebih untuk Asia Selatan
Indonesia
•
30 Jun 2022

Laporan sebut ada penurunan turis Eropa yang pilih AS sebagai tujuan wisata musim panas
Indonesia
•
26 May 2025


Berita Terbaru

Singapura bentuk Future of Finance Institute, percepat adopsi AI dan tokenisasi di sektor keuangan
Indonesia
•
26 Jun 2026

Chery Q kantongi lebih dari 3.000 prapemesanan, EV Compact berjarak tempuh 400 km
Indonesia
•
26 Jun 2026

Apple naikkan harga Mac dan iPad akibat lonjakan biaya cip memori, iPhone tetap tidak berubah
Indonesia
•
26 Jun 2026

Bank of China Hong Kong jadi bank kliring RMB di Indonesia, permudah perdagangan dan investasi bilateral
Indonesia
•
26 Jun 2026
