
Studi: Pemanasan global ubah pola curah hujan dan hujan salju ekstrem di belahan Bumi Utara

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' ini menunjukkan gletser di Gunung Anyemaqen di Prefektur Otonom Etnis Tibet Golog di Provinsi Qinghai, China barat laut, pada 8 Maret 2023. (Xinhua/Chen Jie)
Pemanasan global mengubah distribusi presipitasi baik dalam bentuk padat maupun cair, yang menyebabkan perubahan intensitas serta frekuensi curah hujan dan salju ekstrem.
Urumqi, Daerah Otonomi Uighur Xinjiang (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi terbaru memberikan wawasan baru tentang bagaimana pemanasan global mengubah pola curah hujan dan hujan salju ekstrem di Belahan Bumi Utara selama tujuh dekade terakhir.Studi itu, yang dipimpin oleh para peneliti dari Institut Ekologi dan Geografi Xinjiang (Xinjiang Institute of Ecology and Geography) di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), telah dipublikasikan dalam jurnal Advances in Climate Change Research.Menurut studi tersebut, pemanasan global mengubah distribusi presipitasi baik dalam bentuk padat maupun cair, yang menyebabkan perubahan intensitas serta frekuensi curah hujan dan salju ekstrem.Dengan menggunakan data analisis ulang ERA5-Land yang mencakup periode 1950 hingga 2022, para peneliti melakukan analisis komprehensif terhadap tren jangka panjang, sensitivitas suhu, serta mekanisme pendorong curah hujan dan salju ekstrem di seluruh Belahan Bumi Utara.Mereka menemukan bahwa selama tujuh dekade terakhir, curah hujan ekstrem meningkat dengan laju 0,269 mm per tahun, hampir sembilan kali lebih cepat daripada laju peningkatan hujan salju ekstrem, yaitu 0,029 mm per tahun.Studi ini juga menunjukkan bahwa suhu yang lebih hangat terutama akan berkontribusi pada peningkatan curah hujan ekstrem, tetapi memberikan efek yang relatif kecil terhadap hujan salju ekstrem."Presipitasi ekstrem merupakan faktor penting dalam manajemen risiko," tutur Li Yupeng, penulis pertama studi tersebut. "Wilayah lintang tengah sebaiknya memprioritaskan pengelolaan risiko banjir yang didorong oleh meningkatnya curah hujan, sementara wilayah lintang tinggi dan pegunungan perlu mengatasi risiko-risiko bahaya terkait dengan salju."Li menambahkan bahwa studi ini memberikan wawasan untuk memahami pola presipitasi ekstrem global dan mendukung perancangan strategi adaptasi iklim serta pencegahan bencana yang spesifik untuk setiap wilayah.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China luncurkan sistem operasi PC buatan dalam negeri pertama yang miliki fitur AI
Indonesia
•
10 Aug 2024

12 patung penjaga pintu ditemukan di Angkor, Kamboja
Indonesia
•
30 Oct 2024

Peta migrasi pemijahan tuna sirip biru dukung pengelolaan sumber daya perikanan dunia
Indonesia
•
15 Dec 2022

China bangun konstelasi satelit untuk fasilitasi konektivitas pintar dari luar angkasa
Indonesia
•
30 May 2025


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
