
Fokus Berita – Tarif proteksionis UE terhadap EV China hadapi reaksi keras dari industri dan pejabat

Foto yang diabadikan pada 4 Oktober 2024 ini menunjukkan gedung Komisi Eropa di Brussel, Belgia. (Xinhua/Zhao Dingzhe)
Pemberlakuan tarif antisubsidi terhadap kendaraan listrik (electric vehicle/EV) buatan China telah memicu penolakan keras dari dalam UE dan pemangku kepentingan utama industri.
Brussel, Belgia (Xinhua/Indonesia Window) – Komisi Eropa pada Selasa (29/10) mengumumkan pemberlakuan tarif antisubsidi terhadap kendaraan listrik (electric vehicle/EV) buatan China, sebuah keputusan yang telah memicu penolakan keras dari dalam UE dan pemangku kepentingan utama industri.Mulai Rabu (30/10), tarif ini akan berlaku selama lima tahun dengan tarif yang bervariasi terhadap sejumlah produsen mobil terkemuka China, yakni 17 persen untuk BYD, 18,8 persen untuk Geely, dan 35,3 persen untuk SAIC.Perusahaan-perusahaan lainnya yang kooperatif dalam investigasi akan dikenakan tarif sebesar 20,7 persen, sementara perusahaan yang tidak kooperatif akan dikenakan tarif maksimum 35,3 persen, menurut pernyataan komisi tersebut.Meskipun ada keputusan ini, Komisi Eropa mengatakan bahwa UE dan China masih menjajaki langkah-langkah alternatif dalam pedoman WTO untuk mengatasi masalah perdagangan.Keputusan tersebut memicu ketidakpuasan yang luas di antara negara-negara anggota UE dan pemangku kepentingan industri. Para kritikus berpendapat bahwa tarif semacam itu dapat membebani konsumen Eropa, memperburuk hubungan perdagangan dan investasi UE-China, menghambat transisi Eropa ke sektor otomotif yang lebih ramah lingkungan, dan pada akhirnya melemahkan upaya global untuk mengatasi perubahan iklim.Kementerian ekonomi Jerman menegaskan kembali komitmennya terhadap "pasar terbuka," menggarisbawahi betapa pentingnya jaringan perdagangan global bagi negara itu. Mereka juga menyerukan negosiasi lanjutan dengan China guna meredakan ketegangan sekaligus melindungi industri UE.Slowakia, sebagai salah satu pihak yang memberikan suara tidak setuju dalam pemungutan suara pada Oktober, menentang kenaikan tarif tersebut. Perdana Menteri Robert Fico mengatakan bahwa China "20 tahun lebih maju dari kita dalam hal EV", dan memperingatkan bahwa peningkatan hambatan perdagangan pada akhirnya berpotensi lebih merugikan Eropa dibandingkan China.
Orang-orang mengunjungi paviliun produsen mobil China Leapmotor dalam sesi pratinjau media Paris Motor Show 2024 di Paris, Prancis, pada 14 Oktober 2024. (Xinhua/Gao Jing)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Starbucks guncang! Ratusan karyawan kena PHK, gerai makin banyak tutup
Indonesia
•
28 Sep 2025

Pusat sertifikasi PV 2.000 volt pertama di dunia diresmikan di Hainan, China
Indonesia
•
26 Sep 2025

Investasi minerba 271 juta dolar AS pada 2020
Indonesia
•
13 Mar 2020

Pasar mobil bekas China diperkirakan pulih stabil pada 2023
Indonesia
•
20 Feb 2023


Berita Terbaru

90 persen wilayah Maluku adalah laut, Indonesia-China perkuat ekonomi biru di Tual
Indonesia
•
25 Sep 2026

Pertumbuhan Asia-Pasifik turun jadi 5 persen, ADB soroti konflik dan el niño
Indonesia
•
24 Sep 2026

Ekonomi global diprediksi tumbuh 2,9 persen, OECD peringatkan inflasi dan krisis energi
Indonesia
•
24 Sep 2026

Direktur IMF sebut ekonomi dunia hadapi berbagai risiko meski tunjukkan ketahanan
Indonesia
•
22 Sep 2026
