
Pendekatan ekoteologi Islam perkuat tata kelola lingkungan

Para petugas membersihkan jalanan dari material lumpur dan bebatuan yang terbawa oleh banjir di kawasan perumahan, di kota mandiri Sentul City, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 12 Februari 2026. (Indonesia Window)
Pendekatan ekoteologi Islam dinilai dapat menjadi fondasi penting untuk memperkuat tata kelola lingkungan yang berkelanjutan sekaligus berorientasi masa depan.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Krisis lingkungan yang kian sering memicu bencana di berbagai wilayah Indonesia membutuhkan pendekatan baru yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh dimensi etika dan spiritual. Pendekatan ekoteologi Islam dinilai dapat menjadi fondasi penting untuk memperkuat tata kelola lingkungan yang berkelanjutan sekaligus berorientasi masa depan.
Hal tersebut disampaikan oleh dosen pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Suhadi Cholil, dalam paparannya berjudul ‘Ekoteologi Islam dan Foresight dalam Bencana Katastrofik,’ dalam Weekly Webinar Series – Update Sumatra ke-8 bertema ‘Resiliansi, Eko-Teologi, dan Citizen Science Pascabencana’, yang diselenggarakan Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Jakarta, Jumat (20/2).
Dalam uraiannya, Suhadi menyoroti keterkaitan erat antara krisis ekologi, bencana besar, serta pentingnya visi jangka panjang dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia.
Dengan merefleksikan berbagai bencana yang terjadi di Sumatra, dia menegaskan bahwa musibah ekologis yang berulang tidak semata-mata disebabkan oleh faktor alam. Menurutnya, kerusakan lingkungan yang berlangsung secara sistematis selama puluhan tahun telah memperbesar risiko bencana.
“Data deforestasi dan kerusakan hutan menjadi indikator kuat bahwa krisis ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan hasil interaksi kompleks antara kebijakan, kepemimpinan politik, serta budaya konsumtif masyarakat,” ujarnya.
Ekoteologi Islam
Dalam konteks tersebut, Suhadi menawarkan pendekatan ekoteologi Islam sebagai kerangka normatif dan etis untuk merespons krisis lingkungan.
Dia menjelaskan bahwa ajaran Islam sebenarnya memiliki konsep-konsep fundamental yang menegaskan tanggung jawab manusia terhadap alam.
Konsep amanah dan khalifah menempatkan manusia sebagai penjaga bumi, sementara prinsip mizan menekankan pentingnya keseimbangan alam. Sebaliknya, tindakan merusak lingkungan dipandang sebagai bentuk fasad yang harus dihindari.
“Ekoteologi tidak boleh berhenti sebagai wacana keagamaan, tetapi harus menjadi sumber energi spiritual yang memotivasi tindakan ekologis,” tegasnya.
Meski demikian, Suhadi mengingatkan bahwa pendekatan etis saja tidak cukup untuk mengatasi persoalan lingkungan yang kompleks. Nilai-nilai moral perlu diterjemahkan menjadi kebijakan konkret dan strategi yang dapat diimplementasikan secara nyata.
“Diperlukan kebijakan konkret dan strategi implementatif agar nilai-nilai tersebut berdampak nyata pada mitigasi dan pencegahan bencana,” tambahnya.
Selain dimensi teologis, Suhadi juga menekankan pentingnya pendekatan foresight atau studi masa depan dalam pengelolaan lingkungan. Pendekatan ini bukanlah ramalan, melainkan metode strategis untuk membaca berbagai kemungkinan masa depan dan menyiapkan kebijakan sejak dini.
Dia menilai bahwa kebijakan lingkungan di Indonesia masih sering terjebak dalam pola pikir jangka pendek yang mengikuti siklus politik lima tahunan, sehingga penanganan bencana cenderung bersifat reaktif.
Melalui pendekatan foresight, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat menggunakan berbagai metode seperti environmental scanning, perencanaan skenario, dan backcasting untuk menghubungkan visi masa depan dengan langkah kebijakan yang konkret.
Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah visi jangka panjang bertajuk ‘Nusantara Seimbang 2045,’ yang berlandaskan prinsip mizan atau keseimbangan alam. Melalui metode backcasting, visi ideal tersebut ditarik ke masa kini untuk menentukan kebijakan, investasi, serta inovasi yang perlu dimulai sejak sekarang.
Tata kelola lingkungan komprehensif
Menurut Suhadi, krisis lingkungan merupakan persoalan multidimensional yang mencakup aspek teknis, politik, sosial, dan spiritual. Karena itu, penanganannya membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.
Ekoteologi Islam dapat memberikan fondasi etis sekaligus motivasi spiritual bagi masyarakat, sementara pendekatan foresight menyediakan instrumen analitis untuk merumuskan kebijakan yang lebih terarah.
Kombinasi kedua pendekatan tersebut diyakini mampu menghadirkan tata kelola lingkungan yang lebih komprehensif, sekaligus mendorong perubahan paradigma dari penanganan bencana yang bersifat reaktif menuju strategi yang lebih proaktif dan berorientasi masa depan.
Dengan mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dan perencanaan strategis, pendekatan ekoteologi Islam diharapkan dapat menjadi pijakan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus mengurangi risiko bencana yang terus mengancam Indonesia.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Potret Timur Tengah – Mumi tertua bukan bangsawan ditemukan di Mesir
Indonesia
•
28 Jan 2023

Pesawat amfibi berukuran besar buatan China, AG600, masuki fase ‘batch production’ pertama
Indonesia
•
03 Jul 2024

Fosil embrio kura-kura berusia 100 juta tahun ditemukan di China bagian tengah
Indonesia
•
22 Aug 2021

Studi genomik ungkap ancaman perkawinan sedarah pada koala di Pulau Kanguru, Australia
Indonesia
•
17 Sep 2025


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
