
Peneliti buat peta pertama untuk reseptor penciuman di hidung

Ilustrasi. (Battlecreek Coffee Roasters on Unsplash)
Reseptor penciuman tersusun sangat terorganisasi dalam pita-pita rapat yang saling tumpang tindih berdasarkan jenis reseptor, menantang pandangan lama bahwa distribusinya di rongga hidung sebagian besar bersifat acak.
Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Para peneliti Amerika Serikat (AS) menciptakan peta terperinci pertama untuk reseptor penciuman di hidung, yang menandai kemajuan besar dalam memahami penciuman dan mendekatkannya pada kemajuan serupa yang telah dicapai dalam penglihatan, pendengaran, dan peraba, menurut sebuah studi yang diterbitkan pada Selasa (28/4) di jurnal Cell.
Peta tersebut menunjukkan bahwa reseptor penciuman tersusun sangat terorganisasi dalam pita-pita rapat yang saling tumpang tindih berdasarkan jenis reseptor, menantang pandangan lama bahwa distribusinya di rongga hidung sebagian besar bersifat acak.
Temuan tersebut memberikan pengetahuan dasar yang dapat membantu membuka jalan bagi pengembangan terapi di masa depan untuk gangguan kehilangan penciuman, ungkap studi tersebut.
Para peneliti di Harvard Medical School melakukan studi pada tikus untuk memetakan organisasi lebih dari 1.000 jenis reseptor penciuman di hidung. Mereka menggabungkan teknik pengurutan (sequencing) sel tunggal dan transkriptomik spasial untuk menganalisis sekitar 5,5 juta neuron dari lebih dari 300 ekor tikus.
Studi tersebut menemukan bahwa neuron yang mengekspresikan reseptor penciuman yang berbeda tidak tersebar secara acak, melainkan menunjukkan organisasi spasial yang kuat, membentuk pita-pita horizontal yang saling tumpang tindih dari bagian atas hingga bawah rongga hidung sesuai jenis reseptor.
"Hasil kami memberikan keteraturan pada sistem yang sebelumnya dianggap tidak memiliki keteraturan, yang secara konseptual mengubah cara kita berpikir tentang cara kerja sistem ini," ujar Sandeep Robert Datta, profesor neurobiologi di Harvard Medical School sekaligus penulis senior studi tersebut.
Para peneliti juga menemukan bahwa peta reseptor di hidung berkorelasi dengan peta pemrosesan penciuman di bulbus olfaktorius pada otak, memberikan petunjuk tentang bagaimana informasi bau ditransmisikan.
Datta menuturkan peta penciuman tersebut menyediakan informasi dasar yang dapat membantu para ilmuwan mengembangkan terapi untuk gangguan kehilangan indra penciuman, yang saat ini masih terbatas.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Pusat pengujian tenaga hidrogen utama mulai beroperasi di China barat daya
Indonesia
•
10 Jan 2023

Studi sebut meningkatnya radiasi surya cerminkan progres udara bersih di China
Indonesia
•
17 Apr 2025

Feature – Antarmuka otak-tulang belakang beri harapan baru bagi pasien yang alami kelumpuhan
Indonesia
•
21 Mar 2025

Ekosistem mangrove efektif urai limbah budi daya laut
Indonesia
•
28 Apr 2026


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
