Peneliti China ungkap rahasia adaptasi yak dengan lingkungan rendah oksigen

Seekor yak liar terlihat di Cagar Alam Nasional Qiangtang di Daerah Otonom Tibet, China barat daya, pada 25 September 2021. (Xinhua/Purbu Zhaxi)
Adaptasi yak liar dan domestik dengan lingkungan berketinggian tinggi di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet yang rendah oksigen diteliti dengan mengumpulkan dua genom tingkat kromosom, masing-masing untuk dua jenis mamalia tersebut, serta menyaring varian struktural (structural variant/SV) melalui data panjang tentang yak dan sapi.
Beijing, China (Xinhua) – Sejumlah peneliti China berhasil mengungkap mekanisme genetik dan seluler yang mendasari adaptasi yak (mamalia pemamah biak yang berkerabat dekat dengan sapi dan banteng) dengan lingkungan rendah oksigen.Yak liar dan domestik dapat beradaptasi dengan lingkungan berketinggian tinggi di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, sementara mamalia yang bukan asli daerah itu, termasuk manusia, mungkin mengalami masalah paru-paru dan jantung yang serius ketika mereka terkena hipoksia di dataran tinggi tersebut.Berdasarkan data genomik dan transkriptomik, para peneliti dari Northwest Institute of Plateau Biology yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China mengumpulkan dua genom tingkat kromosom, masing-masing untuk yak liar dan yak domestik, serta menyaring varian struktural (structural variant/SV) melalui data panjang tentang yak dan sapi.Sebanyak 127 gen yang membawa tipe khusus SV diekspresikan secara berbeda pada paru-paru sapi dan yak. Para peneliti kemudian menemukan subtipe sel endotel spesifik yak yang mengekspresikan gen yang terkait dengan adaptasi terhadap lingkungan rendah oksigen, menurut temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications.Temuan ini memberikan wawasan baru tentang adaptasi yak di dataran tinggi serta memiliki implikasi penting untuk memahami respons fisiologis dan patologis mamalia besar serta manusia terhadap hipoksia.Dataran Tinggi Tibet
Daerah Otonom Tibet di China barat daya masih menjadi salah satu kawasan dengan kondisi lingkungan terbaik di dunia, dengan keanekaragaman hayati dan ekosistem lokal yang tetap stabil pada 2021, menurut laporan yang dirilis pada 2 Juni lalu.Kualitas air di sungai-sungai dan danau-danau utama di Tibet secara umum baik tahun lalu. Air permukaan di sejumlah sungai termasuk Sungai Yarlung Zangbo dan Sungai Lhasa mendapat peringkat Kelas II, sedangkan air permukaan di Sungai Rongbuk di bawah Gunung Qomolangma mencapai Kelas I, sebut laporan yang dirilis oleh Departemen Ekologi dan Lingkungan Regional.Kualitas air permukaan di China dibagi menjadi lima kelas, dengan Kelas I sebagai yang terbaik.Laporan tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di daerah itu tetap baik pada 2021, dengan jumlah hari dengan kualitas udara yang baik di Lhasa, ibu kota daerah tersebut, mencapai 100 persen.
Foto dari udara yang diabadikan pada 6 Juli 2021 ini menunjukkan pelangi di atas jalan raya yang menghubungkan wilayah Milin dan Medog di Nyingchi, Daerah Otonom Tibet, China barat daya. (Xinhua/Dong Zhixiong)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Peneliti identifikasi area otak yang berperan penting dalam respons observasional terhadap ancaman
Indonesia
•
14 Feb 2024

China mulai bangun teleskop baru untuk misi luar angkasa Bulan dan antariksa dalam
Indonesia
•
13 Oct 2023

China dan Indonesia bidik peningkatan kerja sama di bidang tanaman obat
Indonesia
•
25 Aug 2024

China targetkan pengembangan pusat data yang lebih ramah lingkungan
Indonesia
•
27 Jul 2024
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
