
Tutupan awan menyusut, perburuk pemanasan global

Foto bertanggal 28 April 2025 ini menunjukkan pemandangan Gunung Salak, di Bogor, Jawa Barat. (Indonesia Window)
Tutupan awan Bumi menyusut secara drastis, memperburuk pemanasan global dan berkontribusi terhadap suhu panas ekstrem yang memecahkan rekor di seluruh dunia.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tutupan awan Bumi menyusut secara drastis, memperburuk pemanasan global dan berkontribusi terhadap suhu panas ekstrem yang memecahkan rekor di seluruh dunia, demikian temuan sebuah penelitian internasional yang melibatkan tim peneliti Australia.Penelitian yang didasarkan pada data satelit selama 24 tahun ini menemukan bahwa 1,5 hingga 3 persen zona awan badai di dunia telah menyusut setiap 10 tahun. Tren ini dipicu oleh perubahan iklim akibat pergeseran angin dan meluasnya wilayah tropis yang mendorong sistem badai ke arah kutub, menurut siaran pers terbaru di situs web Centre of Excellence for 21st Century Weather Dewan Riset Australia (Australian Research Council/ARC) di Monash University, Melbourne.Dengan semakin sedikitnya tutupan awan yang memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa, lebih banyak energi surya akan diserap oleh Bumi, sehingga memperkuat efek pemanasan akibat emisi gas rumah kaca, menurut penelitian yang dipimpin oleh Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (National Aeronautics and Space Administration/NASA) Amerika Serikat (AS) bekerja sama dengan tim peneliti Australia dan diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters.Penurunan tutupan awan ini kini dianggap sebagai penyebab utama mengapa Bumi menyerap lebih banyak energi surya, dengan penelitian terbaru yang mengonfirmasi bahwa perubahan ini sudah mendorong pemanasan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, ujar Christian Jakob, salah satu penulis penelitian tersebut sekaligus direktur ARC Center."Ini merupakan bagian penting dalam upaya memahami pemanasan ekstrem yang kami amati belakangan ini, sekaligus menjadi peringatan keras akan perlunya aksi iklim yang mendesak," kata Jakob, seraya menambahkan bahwa memprediksi pembentukan awan dan pemantulan sinar matahari secara akurat sangat penting untuk memperkirakan kecepatan dan skala pemanasan di masa depan."Bukan hanya rata-rata jangka panjang saja yang penting, tetapi juga bagaimana kondisi harian dan musiman yang kita andalkan selama ini sedang berubah," tuturnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Penelitian ungkap cekungan Apollo di Bulan terbentuk 4,16 miliar tahun silam
Indonesia
•
23 Aug 2025

Studi di Australia temukan ‘sakelar pengaman' kanker yang blokir serangan imun
Indonesia
•
22 Dec 2025

COVID-19 – Pejabat Saudi: Tak ada efek ‘jangka panjang' dari vaksin
Indonesia
•
13 Jun 2021

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
