
Tim astronom China ungkap penemuan baru tentang dua komet

Foto yang diabadikan di stasiun pengamatan Ming'antu, yang merupakan bagian dari Observatorium Astronomi Nasional di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China di Wilayah Zhengxiangbai, Daerah Otonom Mongolia Dalam, China utara, pada 18 Juli 2020 ini menunjukkan Komet NEOWISE di langit bertabur bintang. (Xinhua/Lian Zhen)
Penelitian tentang aktivitas komet – yang diberi kode 62P/Tsuchinshan 1 dan 60P/Tsuchinshan 2 – oleh para astronom China menunjukkan aktivitas kedua komet itu meningkat seiring dengan berkurangnya jarak perihelion akibat gangguan gravitasi Jupiter.
Beijing, China (Xinhua) – Para astronom China mencatatkan penemuan baru mereka terkait penelitian tentang aktivitas komet yang ditemukan oleh negara tersebut, menurut Purple Mountain Observatory (PMO) yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences).Kedua komet tersebut, yang diberi kode 62P/Tsuchinshan 1 dan 60P/Tsuchinshan 2, ditemukan oleh PMO pada Januari 1965 dan dikonfirmasi sebagai komet berperiode pendek baru setelah dilaporkan ke Pusat Planet Kecil (Minor Planet Center) dari Persatuan Astronomi Internasional (International Astronomical Union).Sebuah tim peneliti dari PMO mengamati 60P/Tsuchinshan 2 sejak November 2018 hingga Maret 2019 menggunakan teleskop berpresisi tinggi dan menemukan sebuah struktur spiral pada koma bagian dalamnya, menurut makalah penelitian yang diterbitkan dalam The Astrophysical Journal.Sebagai komet keluarga Jupiter, komet tersebut sangat aktif dibandingkan komet-komet lain dalam jenisnya pada jarak heliosentrik yang serupa, dan aktivitas puncaknya muncul sekitar 10 hari setelah perihelion, papar makalah itu.Tim peneliti tersebut mendapatkan parameter aktivitas utama dari kedua komet itu dengan mengumpulkan 850 pengamatan terhadap 60P/Tsuchinshan 2 dan 471 pengamatan terhadap 62P/Tsuchinshan 1 selama kurun waktu lebih dari 20 tahun. Mereka menemukan bahwa aktivitas kedua komet itu meningkat seiring dengan berkurangnya jarak perihelion akibat gangguan gravitasi Jupiter, urai makalah lain dari tim tersebut yang diterbitkan dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

WWF sebut populasi margasatwa di Afrika susut 76 persen dalam 50 tahun terakhir
Indonesia
•
15 Oct 2024

Peneliti Australia ungkap perubahan otak regional progresif pada penderita parkinson
Indonesia
•
27 Nov 2025

Ketahanan pangan Fiji terdampak perubahan iklim
Indonesia
•
25 Mar 2024

Peneliti BRIN hasilkan 4 varietas unggul pinang, tembakau, kakao
Indonesia
•
03 Nov 2023


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
