
Presiden Serbia sebut pengeboman Yugoslavia oleh NATO tandai matinya hukum internasional

Orang-orang menghadiri upacara Hari Mengenang Para Korban Agresi NATO di Kraljevo, Serbia, pada 24 Maret 2022. (Xinhua/Shi Zhongyu)
Pengeboman Yugoslavia oleh NATO yang dimulai pada 24 Maret 1999 tanpa otorisasi sebelumnya dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyasar target-target sipil dan militer selama 78 hari, tewaskan ribuan polisi, tentara, dan warga sipil.
Sombor, Serbia (Xinhua) – Agresi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO) terhadap Yugoslavia 24 tahun silam menandai kematian hukum internasional, ujar Presiden Serbia Aleksandar Vucic pada Jumat (24/3) dalam sebuah acara peringatan di Kota Sombor, tempat bom pertama dijatuhkan pada 1999."Dua puluh empat tahun lalu, hukum internasional modern akhirnya mati, dan Anda harus mengetahui bahwa ini bukanlah kata-kata birokratis yang tidak penting, tetapi lebih dari itu," kata Vucic."Tidak ada hal yang lebih buruk yang dapat terjadi di dunia dibandingkan dengan apa yang terjadi di sini, terhadap sebuah negara kecil, yang (dinyatakan) bersalah hanya karena ingin mengambil keputusannya sendiri, dan bebas. Hal itu tidak menarik bagi kekuatan-kekuatan yang menghancurkan tatanan internasional lama pada 1989/1990 dan menciptakan tatanan baru di mana hanya mereka yang memiliki keputusan akhir dalam segala hal," urai Vucic.Dia berpidato di hadapan banyak orang yang berkumpul di Alun-alun St. George di Sombor, yang mengibarkan bendera Serbia dan menyalakan lilin untuk para korban pengeboman itu, yang menurut sebagian besar mereka merupakan sebuah bentuk ketidakadilan.
Presiden Serbia Aleksandar Vucic (tengah) menghadiri upacara Hari Mengenang Para Korban Agresi NATO di Kraljevo, Serbia, pada 24 Maret 2022. (Xinhua/Shi Zhongyu)
Karangan bunga terlihat di tugu peringatan yang didedikasikan untuk tiga wartawan China yang tewas dalam serangan pengeboman NATO di bekas kedutaan besar China di Republik Federal Yugoslavia pada 1999, di Beograd, Serbia, pada 7 Mei 2022. (Xinhua/Wang Wei)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Jubir Kemenhan China: Langkah China usir helikopter AL Australia masuk akal, aman, dan legal
Indonesia
•
08 May 2024

Iran umumkan misi diplomatiknya di Arab Saudi kembali beroperasi
Indonesia
•
02 May 2023

Imbas unjuk rasa pro-Palestina, Universitas Columbia batalkan upacara wisuda
Indonesia
•
08 May 2024

UNGA adopsi keputusan untuk bawa dinamika baru dalam debat tentang reformasi DK PBB
Indonesia
•
28 Aug 2024


Berita Terbaru

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026

Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4, korban tembus 111 orang
Indonesia
•
11 Aug 2026
