
Peneliti Indonesia kembangkan senyawa radioprotektif berbahan alami untuk terapi kanker

Ilustrasi. (Pixabay)
Pengembangan senyawa radioprotektif untuk terapi kanker menggunakan bahan alami buatan dalam negeri mencakup mangostin (terkandung dalam manggis), kurkumin (terkandung dalam kunyit), dan piperin (terkandung dalam lada) sebagai agen radioprotektif.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetri (PRTRRB) melakukan pengembangan senyawa radioprotektif menggunakan bahan alami buatan dalam negeri untuk terapi kanker.Peneliti PRTRRB BRIN Isti Daruwati mengatakan, pengembangan radioprotektor secara kimia maupun alami sudah banyak dikembangkan dan dikonsumsi, di antaranya anggur, vitamin, dan bahan lain yang berasal dari bakteri.“Namun, mekanisme kerjanya masih harus dipelajari lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana memproteksi sel sehat dalam tubuh manusia, khususnya akibat paparan radiasi internal,” katanya, di Bandung, Jawa Barat, Senin (15/7), dikutip dari laman BRIN.Isti menjelaskan, riset senyawa radioprotektif bertujuan untuk melihat lebih lanjut mekanisme radioprotektif dari bahan alam dalam perbaikan kerusakan DNA, pemusnahan radikal bebas, antiperadangan, dan mengatur jalur sinyal.“Pengembangan ini dilakukan guna mencari kandidat baru dari isolat bahan alam sebagai kandidat radioprotektor yang akan digunakan dalam memproteksi sel, kaitannya dengan radiasi internal penggunaan Samarium-153-EDTMP (Ethylene Diamine Tetra Methylene Phosphonat),” jelas Isti.Riset ini diharapkan dapat memanfaatkan bahan alam Indonesia, antara lain mangostin (terkandung dalam manggis), kurkumin (terkandung dalam kunyit), dan piperin (terkandung dalam lada) sebagai agen radioprotektif. Dengan langkah ini maka kemandirian bahan baku obat dan produk radiofarmaka baru, Sm-153-EDTMP, buatan dalam negeri dapat tercapai.“Riset ini diharapkan dapat dihilirisasi sampai uji praklinis dan klinis agar berperan dalam mengatasi tingginya kasus kanker di Indonesia,” harapnya.Lebih lanjut Isti menguraikan, penelitian ini dimulai dari penyiapan isolat alfa mangostin, kurkumin, dan piperin. Lalu penyiapan kit kering radiofarmaka EDTMP, penandaan kit EDTMP dengan Samarium-153, dan kontrol kualitas Sm-153-EDTMP.Langkah selanjutnya adalah uji fisikokimia Sm-153-EDTMP, evaluasi aktivitas radioprotektif dan radiosensitizer kombinasi isolat pada sel terhadap paparan radiasi interna dari Sm-153-EDTMP, estimasi dosis internal radiasi pada organ normal pemberian Sm-153-EDTMP, serta uji in silico.Riset ini diharapkan melahirkan hak kekayaan intelektual dan publikasi, sampai di tahap hilirisasi.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Vaksin Rusia kembangkan antibodi setelah dosis pertama
Indonesia
•
26 Sep 2020

Enam spesies anggrek baru ditemukan di China barat daya
Indonesia
•
21 Dec 2023

Karang terbesar di dunia ditemukan di Samudra Pasifik barat daya
Indonesia
•
16 Nov 2024

Moksibusi dan herbal jadi fokus riset China-Indonesia untuk hati berlemak dan osteoartritis
Indonesia
•
23 Sep 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
