
Ilmuwan China rancang perangkat komputasi yang dapat diprogram berbasis DNA

Seorang guru dan murid-muridnya mempelajari model struktur DNA di sebuah sekolah menengah di wilayah Xingye, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan, pada 29 Mei 2020. (Xinhua/Cao Yiming)
Perangkat komputasi berbasis DNA menggunakan kode genetik merupakan strategi komputasi baru yang menjanjikan potensi besar bagi paralelisme masif dalam pengodean dan eksekusi algoritma.
Shanghai, China (Xinhua) – Para ilmuwan China mengembangkan jenis baru unit komputasi tujuan umum dan dapat diprogram berbasis molekul DNA, yang menandai sebuah langkah penting dalam pengembangan komputer DNA.Sirkuit terpadu (integrated circuit/IC) yang banyak digunakan dalam beberapa dekade terakhir ini sebagian besar merupakan sirkuit elektronik dan fotonik berbasis semikonduktor. Sirkuit fase cair yang menggunakan kode genetik merupakan strategi komputasi baru yang menjanjikan potensi besar bagi paralelisme masif dalam pengodean dan eksekusi algoritma.Meski demikian, molekul biologis cenderung terdifusi dan bercampur dalam cairan, sehingga sulit untuk menerapkan strategi tersebut pada komputasi tujuan umum.Penelitian yang diterbitkan pada pekan ini di jurnal Nature tersebut menunjukkan sebuah sistem yang dengan integrasi DNA-based programmable gate array (DPGA) multilapis mampu menyelesaikan persamaan kuadrat.Para peneliti dari Universitas Jiao Tong Shanghai merakit perangkat tersebut dengan tiga lapis DPGA kaskade yang terdiri dari 30 gerbang logika (logic gate) dengan sekitar 500 untai DNA. Hal tersebut berfungsi untuk mengontrol tumbukan acak molekul.Mereka menemukan bahwa penggunaan polimer untai tunggal, yang terdiri dari sejumlah kecil nukleotida, sebagai sinyal transmisi yang seragam terbukti dapat diandalkan untuk mengintegrasikan sirkuit terpadu skala besar dengan kebocoran minimal dan fidelitas yang tinggi untuk komputasi tujuan umum.Dilengkapi dengan konverter analog ke digital, perangkat komputasi berbasis DNA dapat digunakan untuk mengklasifikasikan mikroRNA yang berhubungan dengan penyakit, menurut penelitian tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Alat pencitraan berbasis AI mampu deteksi lesi otak penyebab epilepsi pada anak
Indonesia
•
02 Oct 2025

Pasien bertahan hidup 48 jam tanpa dua paru-paru dengan organ buatan
Indonesia
•
02 Feb 2026

Rusia selesaikan desain roket untuk penerbangan ke Mars
Indonesia
•
03 Nov 2020

Lebih dari 1 ton koin berusia ribuan tahun ditemukan di China timur
Indonesia
•
02 Dec 2022


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
