
Perdamaian terancam? Iran sebut AS langgar MoU hanya beberapa hari setelah ditandatangani

Foto yang diabadikan pada 20 Juni 2026 ini menunjukkan Selat Hormuz di dekat Khasab, sebuah kota kecil di Oman utara. (Xinhua/Wen Xinnian)
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Seorang penasihat senior pemimpin tertinggi Iran pada Sabtu (27/6) mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) telah melanggar nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) perdamaian yang baru saja ditandatangani antara Teheran dan Washington dengan terus menciptakan ketegangan di Selat Hormuz.
Mohsen Rezaei, yang juga mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran, menyampaikan pernyataan tersebut melalui unggahan di platform media sosial X beberapa jam setelah AS melancarkan serangan udara terhadap wilayah pesisir selatan Iran.
Dia mengatakan, "AS, dengan mendukung tindakan pasukan proksinya (Israel) di kawasan dan terus memicu ketegangan di Selat Hormuz, telah melanggar paragraf pertama dan kelima MoU perdamaian."
Berdasarkan paragraf pertama MoU yang ditandatangani pada 18 Juni, Iran, AS, beserta sekutu masing-masing menyatakan penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon, serta berkomitmen untuk tidak memulai perang maupun operasi militer terhadap satu sama lain. Sementara itu, sesuai paragraf kelima, Iran bertanggung jawab untuk mengatur jalur aman bagi kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz selama 60 hari tanpa biaya.
Rezaei memperingatkan bahwa Iran akan memberikan respons "cepat dan menghancurkan" terhadap setiap pelanggaran atas ketentuan dalam MoU tersebut.
Dalam unggahan lain di platform X pada Sabtu, Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengatakan bahwa AS kembali menyerang Iran di tengah berlangsungnya perundingan.
Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS menyatakan melalui platform X pada Sabtu dini hari bahwa pasukannya melancarkan serangan terhadap Iran pada Jumat (26/6) malam "sebagai respons keras atas serangan kemarin terhadap sebuah kapal dagang yang sedang melintasi Selat Hormuz". Menurut pernyataan tersebut, tindakan Iran telah "melanggar gencatan senjata".
IRGC dalam pernyataan yang dirilis kemudian mengatakan bahwa pasukan angkatan lautnya telah menyerang sejumlah posisi militer AS di Asia Barat sebagai balasan atas serangan udara AS terhadap Iran selatan.
IRGC menambahkan bahwa AS melancarkan serangan terhadap wilayah pesisir selatan Iran dengan dalih insiden yang melibatkan sebuah kapal dagang di Selat Hormuz, seraya memperingatkan bahwa setiap serangan lanjutan dari AS akan memicu respons yang lebih keras dari Iran.
Iran mulai memperketat kendalinya atas Selat Hormuz sejak 28 Februari dengan melarang kapal-kapal milik atau yang berafiliasi dengan Israel dan AS melintas secara aman, menyusul serangan gabungan kedua negara terhadap wilayah Iran.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Kepolisian Pakistan perketat keamanan pascainsiden bom Peshawar
Indonesia
•
02 Feb 2023

Arab Saudi akan izinkan warga asing penduduk punya memiliki real estate di kerajaan
Indonesia
•
13 Jun 2021

Penjualan senjata AS ke Taiwan berlanjut meski ada protes dari China
Indonesia
•
07 Sep 2022

Komentar Xinhua: G7 seharusnya berganti nama menjadi G1+6
Indonesia
•
27 May 2023


Berita Terbaru

Badan Maritim PBB hentikan evakuasi setelah serangan di Teluk Oman, 11.000 pelaut terjebak di Selat Hormuz
Indonesia
•
26 Jun 2026

Selat Hormuz memanas lagi! AS langsung gempur fasilitas rudal Iran
Indonesia
•
27 Jun 2026

Angka kasus Ebola di RD Kongo tembus 1.200
Indonesia
•
27 Jun 2026

Korban tewas gempa dahsyat Venezuela naik jadi 920 orang, 50.000 masih hilang
Indonesia
•
27 Jun 2026
