
Feature – Kelangkaan air perburuk penderitaan di Gaza yang dilanda perang

Warga Palestina terlihat kembali ke Kota Khan Younis di Jalur Gaza selatan pada 30 Juli 2024, setelah tentara Israel mundur dari bagian timur kota itu. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Perjuangan untuk memperoleh air minum bersih menunjukkan betapa intensnya perang telah menghancurkan kehidupan sehari-hari di Gaza.
Gaza, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Selama berbulan-bulan, keluarga Emad Abu Hamad, yang beranggotakan enam orang dan berasal dari Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, terguncang oleh penderitaan yang harus mereka alami setiap hari akibat perang yang sedang berlangsung.Saat pria Palestina itu pulang ke kediamannya, dia terkejut mendapati rumahnya telah hancur. Emad memutuskan untuk mendirikan tenda di atas reruntuhan rumahnya di tengah minimnya berbagai kebutuhan dasar, seperti air, makanan, dan listrik. Untuk mendapatkan air minum dan makanan, ayah berusia 32 tahun tersebut beserta anak-anaknya harus mengantre panjang selama berjam-jam setiap hari."Sebelumnya, saya biasa membeli makanan dengan leluasa dan membeli air hasil desalinasi dari toko," ujarnya kepada Xinhua, "namun kini, kadang kala saya terpaksa menggunakan air asin dan meminumnya, yang berdampak negatif bagi kesehatan kami."Setiap pagi, warga di Jalur Gaza mengantre selama berjam-jam di bawah teriknya sinar matahari untuk mengisi botol dan jeriken dengan air minum, ungkap Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East/UNRWA) di platform media sosial X pada Juli."Lalu, banyak dari mereka harus berjalan menempuh jarak yang jauh sambil membawa beban berat pada musim panas yang terik. Rutinitas yang melelahkan ini terus berulang lagi dan lagi di Gaza," imbuh UNRWA.Ketersediaan air bersih sudah langka di daerah kantong pesisir yang terkepung itu sebelum perang berkecamuk, dan masalah tersebut diperburuk oleh musim panas yang terik dan kering, pengetatan blokade, dan kerusakan infrastruktur yang parah akibat perang. Perjuangan untuk memperoleh air minum bersih menunjukkan betapa intensnya perang telah menghancurkan kehidupan sehari-hari di Gaza.Di Jalur Gaza, sekitar 67 persen fasilitas dan infrastruktur air dan sanitasi telah hancur atau rusak akibat berbagai aktivitas terkait perang, sebut UNRWA pada Juni.Rentang ketersediaan dan konsumsi air di Jalur Gaza tercatat antara dua hingga sembilan liter per kapita per hari. Namun, jumlah minimum air yang dibutuhkan dalam situasi darurat adalah 15 liter per kapita per hari, papar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Warga Palestina terlihat kembali ke Kota Khan Younis di Jalur Gaza selatan pada 30 Juli 2024, setelah tentara Israel mundur dari bagian timur kota itu. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Advokat harus miliki kemampuan “Public Speaking”
Indonesia
•
20 Jan 2025

Pejabat Afsel serukan pengembalian artefak Afrika dari eks negara kolonial
Indonesia
•
07 May 2025

Potret Timur Tengah – Budaya Mesir kuno di Lembah Para Ratu
Indonesia
•
26 Jan 2023

Tahun Baru di Jerman diwarnai tragedi kembang api, kekerasan, dan seruan reformasi
Indonesia
•
02 Jan 2025


Berita Terbaru

IOC bakal beri hibah Rp179 juta untuk setiap atlet Olimpiade, ini syaratnya
Indonesia
•
26 Jun 2026

Obesitas kini jadi 'musuh nomor satu' kesehatan Australia, hampir sepertiga orang dewasa terdampak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Museum Tekstil Jakarta rayakan hari jadi ke-50 dengan pameran Wastra Tradisional Klasik
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Tren makanan kukus dan rebus meningkat di Jakarta, warga urban mulai tinggalkan gorengan
Indonesia
•
23 Jun 2026
