Telaah – Teknologi benih dorong mekanisasi kapas di Xinjiang, China

Foto yang diabadikan menggunakan 'drone' ini menunjukkan sebuah mesin pemetik kapas beroperasi di sebuah ladang di wilayah Awat di Aksu, Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China barat laut, pada 24 Oktober 2024. (Xinhua/Gao Han)
Produksi kapas di Xinjiang mencapai hampir 5,69 juta ton pada 2024, menyumbang 92,2 persen dari total output kapas China dan mencetak rekor tertinggi.
Urumqi, Daerah Otonom Uighur Xinjiang (Xinhua/Indonesia Window) – Di Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China barat laut, proses mekanisasi pertanian kapas dimulai sejak tahap awal, yakni dari pengembangan benih.Sebagai daerah penghasil kapas terbesar di China, Xinjiang mencapai tingkat mekanisasi luar biasa, yaitu lebih dari 97 persen dalam budi daya kapas. Melalui popularisasi mesin berukuran besar dan pemanfaatan teknologi mutakhir seperti pemuliaan berbantuan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pemuliaan berbasis bioteknologi, dan penyuntingan gen, para agronom dan ilmuwan terus mengembangkan dan memilih varietas benih kapas berkualitas tinggi yang cocok untuk panen mekanis."Pada 2024, kami menjual lebih dari 2.200 ton benih kapas di dalam negeri, semuanya untuk panen mekanis, mencakup area seluas 1,22 juta mu (sekitar 81.333 hektare)," kata Luo Cheng, kepala pusat penelitian dan pengembangan (litbang) di sebuah perusahaan benih di Xinjiang.Perusahaan tersebut telah mengembangkan enam varietas kapas, yang semuanya dirancang untuk panen mekanis. "Benih kami juga sangat diminati di luar negeri. Tahun lalu, penjualan luar negeri kami mencapai 930 ton," imbuh Luo.Tahir Peyzulla, seorang petani kapas di wilayah Luntai, menjelaskan dampak penggunaan benih baru ini."Varietas lama memiliki struktur tanaman yang renggang dan tingkat kematangan yang tidak merata, membuat panen mekanis menjadi tidak efisien. Namun, sejak kami mulai menggunakan varietas baru pada 2016, efisiensi panen mekanis meningkat secara signifikan," ujarnya, seraya menambahkan bahwa dia memperkirakan panen kapas yang melimpah dengan sekitar 500 kilogram per 1 mu (0,06 hektare) tahun ini.Jiang Hui, manajer umum lembaga penelitian kapas di perusahaan benih lainnya, menyoroti tantangan terkait varietas kapas tradisional dalam panen mekanis, termasuk adaptabilitas yang rendah, serat yang rapuh, dan manajemen lahan yang tidak sesuai."Setelah melakukan penelitian selama lebih dari satu dekade, kami berhasil mencapai terobosan teknologi dalam varietas yang cocok untuk pemanenan mekanis," kata Jiang. "Kami telah mengembangkan varietas baru dengan struktur tanaman yang padat, pembukaan buah kapas yang terkonsentrasi, dan tangkai buah kapas yang mudah terlepas, menggunakan pemuliaan molekuler dan penyuntingan gen. Varietas-varietas baru ini telah secara signifikan meningkatkan efisiensi mesin pemetik kapas, dengan tingkat panen pada satu waktu melebihi 90 persen.""Sejak awal, dari pemilihan benih yang cocok untuk pertanian mekanisasi, kami membangun fondasi bagi mekanisasi penuh produksi kapas," ujar Liu Tao, wakil direktur kantor manajemen mekanisasi pertanian di bawah naungan departemen pertanian dan urusan pedesaan regional.Xinjiang memproduksi hampir 5,69 juta ton kapas pada 2024, menyumbang 92,2 persen dari total output kapas China dan mencetak rekor tertinggi, tunjuk data dari departemen tersebut.Secara spesifik, benih kapas tradisional tidak hanya mengalami terobosan teknologi, tetapi panen mekanis kapas serat panjang, yang dikenal sebagai ‘raja kapas’, juga menunjukkan kemajuan besar.Kapas serat panjang, yang bernilai tinggi karena seratnya yang lebih panjang, merupakan salah satu kapas terbaik di dunia, dengan kilau menyerupai sutra dan tekstur seperti kasmir. Namun, panen mekanis untuk kapas serat panjang dahulu tidak efisien karena posisi cabang berbuah yang rendah, yang memerlukan pemetikan manual.Panen mekanis memerlukan ketinggian ruas pertama cabang berbuah minimal 15 cm dari permukaan tanah, sementara pada varietas kapas serat panjang sebelumnya, tingginya hanya sekitar 9 cm, jelas Tian Liwen, peneliti di Akademi Ilmu Pertanian Xinjiang (Xinjiang Academy of Agricultural Sciences).Setelah institut tanaman ekonomi di akademi tersebut melakukan penelitian selama hampir satu dekade, varietas ‘Xin 78’ yang dikembangkan khusus untuk panen mekanis berhasil mencapai panen mekanis penuh pada 2021 dengan hasil 511,5 kilogram per 1 mu. Sejak saat itu, varietas ini menjadi varietas kapas serat panjang unggulan di Xinjiang.Varietas baru ini tidak hanya meningkatkan tinggi ruas menjadi 17 cm, tetapi juga mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan varietas lama, seperti buah kapas yang kecil, daun yang besar, dan respons yang buruk terhadap semprotan defolian yang dapat memengaruhi output, imbuh Tian.Terlepas dari teriknya udara musim panas, petani berpengalaman Tursuniyaz Turek tetap menjalankan ritual paginya, yaitu berjalan santai menyusuri ladang kapasnya yang hijau dan subur di wilayah Awat, Prefektur Aksu, Xinjiang."Belakangan ini, saya lebih banyak sekadar melihat-lihat daripada bekerja," ujarnya sambil menyentuh tanaman yang tumbuh subur. "Dengan kultivar baru ini, mesin mengurus hampir segalanya, mulai dari manajemen tanaman hingga panen. Saya jadi lebih banyak melakukan pengawasan daripada bekerja," katanya.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Minyak merosot di Asia karena prospek pelonggaran sanksi minyak Iran
Indonesia
•
18 Feb 2022

Jalur Kereta China-Laos layani lebih dari 10 juta penumpang sejak diluncurkan
Indonesia
•
02 Feb 2023

Fokus Berita – Transisi energi China berkontribusi pada pembangunan hijau global
Indonesia
•
31 Aug 2024

Pasar FMCG China tetap tangguh di tengah COVID-19
Indonesia
•
12 Dec 2022
Berita Terbaru

Feature – Tianlala bawa aroma dan manis teh susu dari China ke Indonesia
Indonesia
•
29 Jan 2026

Laba bersih Tesla anjlok 46 persen pada 2025
Indonesia
•
29 Jan 2026

Feature – Kelapa Indonesia lebih mudah masuki pasar China berkat jalur pengiriman dan kebijakan preferensial Hainan
Indonesia
•
28 Jan 2026

Penjualan EV di Indonesia naik 141 persen pada 2025, merek-merek China menonjol
Indonesia
•
27 Jan 2026
