
Produksi pistachio 'emas merah' Suriah terkendala sanksi AS

Pistachio terlihat menggantung di pohonnya di Kota Maan di Provinsi Hama, Suriah tengah, pada 8 Agustus 2022. (Xinhua/Monsef Memari)
Sebelum perang, Suriah memproduksi hingga 80.000 ton pistachio setiap tahun, namun telah berkurang setengahnya selama perang.
Jakarta (Indonesia Window) – Di Kota Maan, Provinsi Hama, Suriah tengah, para petani dan pejabat pemerintah berusaha memulihkan produksi pistachio di kota itu, yang merupakan komoditas penting dalam daftar ekspor Suriah, ke tingkat sebelum perang pada 2011.Bertahun-tahun penguasaan wilayah itu oleh pemberontak selama lebih dari satu dekade perang saudara telah mengakibatkan sejumlah besar pohon pistachio mati.Namun yang lebih buruk lagi, para petani pistachio di negara itu menghadapi kendala besar lain yang harus diatasi, yakni sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Suriah.Jihad Muhammad, kepala kantor pembudidayaan pistachio Aleppo di Kementerian Pertanian Suriah, mengatakan kepada Xinhua bahwa sebagai akibat dari sanksi tersebut, pemerintah Suriah tidak dapat menjamin ketersediaan pupuk dan bahan bakar yang dibutuhkan untuk pertanian, irigasi, dan pengendalian hama.Pistachio Aleppo yang merupakan tanaman asli Suriah ditanam terutama di Provinsi Hama dan Idlib, dan menurut Muhammad, setengah dari produksi pistachio di Suriah berasal dari Provinsi Hama. Pistachio Aleppo dikenal di negara Arab itu sebagai ‘emas merah’ karena kulitnya yang kemerahan dan harganya yang mahal.Pejabat itu mengatakan, perkiraan awal menunjukkan bahwa setidaknya 600.000 pohon pistachio, 500.000 di antaranya di Hama, rusak selama perang. Jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi, imbuhnya.Sebelum perang, Suriah memproduksi hingga 80.000 ton pistachio setiap tahun, jumlah yang tinggi yang telah berkurang setengahnya selama perang, menurut Kementerian Pertanian Suriah.Muhammad mengatakan, perkiraan produksi awal untuk tanaman pistachio musim ini di Suriah adalah sekitar 45.592 ton.
Seorang pekerja mengupas pistachio di Kota Maan di Provinsi Hama, Suriah tengah, pada 8 Agustus 2022. (Xinhua/Monsef Memari)
Seorang petani memeriksa pohon pistachio di Kota Maan di Provinsi Hama, Suriah tengah, pada 8 Agustus 2022. (Xinhua/Monsef Memari)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Media: Jika menyangkut soal China, Inggris harus pisahkan diri dari AS
Indonesia
•
03 Jan 2023

Warga Korsel berunjuk rasa tolak pembuangan air limbah nuklir Jepang
Indonesia
•
28 Aug 2023

Feature: Setahun konflik Gaza, ribuan orang ikuti aksi unjuk rasa pro-Palestina di Los Angeles, AS
Indonesia
•
08 Oct 2024

COVID-19 – Taiwan ganti tes PCR usap hidung dengan air liur
Indonesia
•
01 Jun 2022


Berita Terbaru

Xi undang 100.000 pemuda AS ke China dalam 5 tahun, panda juga segera tiba di Atlanta
Indonesia
•
25 Sep 2026

Puluhan delegasi pilih ‘walk out’ saat Netanyahu pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
25 Sep 2026

Telaah – Dari persaingan ke kerja sama, Xi dorong China-AS temukan cara hidup berdampingan
Indonesia
•
26 Sep 2026

Jumlah pengungsi Yaman tembus 129.438 orang, ribuan menyeberang ke Djibouti
Indonesia
•
23 Sep 2026
