
Feature: Dibangun 165 tahun lalu, Terusan Suez jadi saksi perjalanan Mesir dari terpuruk hingga bangkit (Bagian 1 dari 2)

Sebuah kapal kargo melintasi Terusan Suez di Provinsi Ismailia, Mesir, pada 13 Januari 2024. (Xinhua/Ahmed Gomaa)
Proyek pembangunan Terusan Suez melibatkan Inggris dan Prancis, yang berencana menguasai jalur perdagangan maritim yang vital itu, menggunakan jebakan utang dan bahkan berperang melawan Mesir, menjerumuskan penduduknya ke dalam kesengsaraan selama satu abad.
Kairo, Mesir (Xinhua) – Pada 25 April 1859, di tengah kemegahan penghormatan meriam, seorang pria Prancis mengayunkan belencong di pantai yang saat ini dikenal sebagai Port Said di Mesir, meluncurkan proyek pembangunan ‘bersimbah darah’ dari sebuah proyek yang menantang imajinasi manusia."Ingatlah bahwa Anda tidak sekadar memindahkan tanah, Anda juga membawa kemakmuran bagi keluarga Anda dan tanah yang indah ini," kata peletak batu pertama, Ferdinand de Lesseps, mantan wakil konsul Prancis di Alexandria, Mesir, kepada para pekerja Mesir yang berkumpul di sekelilingnya pada upacara tersebut.Namun, apa yang terjadi setelahnya membuktikan bahwa pidatonya hanyalah janji kosong dari para penjajah Barat.Pada tahun-tahun berikutnya, 120.000 warga Mesir bekerja keras hingga kehilangan nyawa dalam proyek penggalian itu. Setelah terusan tersebut selesai dibangun, Inggris dan Prancis, yang berencana menguasai jalur perdagangan maritim yang vital itu, menggunakan jebakan utang dan bahkan berperang melawan Mesir, menjerumuskan penduduknya ke dalam kesengsaraan selama satu abad."Mungkin di mata orang lain, terusan ini hanyalah sebuah jalur perdagangan, tetapi bagi bangsa Mesir, ada darah dan air mata yang mengalir di sana," kenang Wael Kaddour, yang pernah menjadi anggota dewan Otoritas Terusan Suez Mesir."Ini adalah bagian dari hidup kami," kata pria berusia 80 tahun ini.Janji kosongKamis (25/4) pekan lalu menandai peringatan 165 tahun penggalian Terusan Suez. Kisah terusan ini dimulai pada tahun 1854 ketika Mohamed Said, penguasa Mesir, memberikan izin kepada de Lesseps untuk mendirikan sebuah perusahaan untuk membangun terusan itu dan mengoperasikannya selama 99 tahun sebelum mengembalikan kepemilikannya kepada Mesir.Izin tersebut menetapkan bahwa Mesir menyerahkan hak untuk menggali dan mengelola terusan itu kepada Universal Company of the Maritime Canal of Suez yang didirikan oleh de Lesseps, serta menyediakan lahan dan empat perlima tenaga kerja untuk proyek terusan tersebut tanpa biaya.
Sebuah kapal berukuran besar melintasi Terusan Suez di Provinsi Ismailia, Mesir, pada 13 Januari 2024. (Xinhua/Ahmed Gomaa)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Rusia tunjuk komandan militer baru di Ukraina
Indonesia
•
12 Jan 2023

Kremlin: Persetujuan AS terhadap penggunaan rudal jarak jauh oleh Kiev di wilayah Rusia akan perpanas konflik
Indonesia
•
20 Nov 2024

Brasil bergabung dalam gugatan Afrika Selatan atas senosida oleh Israel di Mahkamah Internasional
Indonesia
•
25 Jul 2025

Xi Jinping bertemu Kepala Dewan Kepemimpinan Presidensial Yaman, sampaikan dukungan
Indonesia
•
10 Dec 2022


Berita Terbaru

AS intensifkan pengumpulan intelijen militer di lepas pantai Kuba
Indonesia
•
11 May 2026

Iran tolak proposal gencatan senjata AS, Trump sebut langkah itu "tidak dapat diterima"
Indonesia
•
11 May 2026

Para pemimpin ASEAN rilis pernyataan bersama soal krisis Timur Tengah di KTT ASEAN 2026
Indonesia
•
10 May 2026

AS-Iran kembali bentrok, AS tak ingin eskalasi
Indonesia
•
08 May 2026
