
Putin tandatangani dekrit untuk tingkatkan angkatan bersenjata Rusia

Presiden Vladimir Putin menyampaikan pidato pada parade militer Hari Kemenangan (Victory Day) di Lapangan Merah Moskow untuk menandai peringatan 77 tahun kemenangan Soviet atas Nazi Jerman, pada 9 Mei 2022. (AP/YouTube/tangkapan layar)
Terakhir kali Putin menetapkan jumlah tentara Rusia adalah pada November 2017, ketika jumlah personel tempur ditetapkan 1,01 juta dari total angkatan bersenjata, termasuk non-kombatan, sebesar 1,9 juta.
Jakarta (Indonesia Window) – Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis menandatangani dekrit untuk meningkatkan jumlah angkatan bersenjata Rusia dari 1,9 juta menjadi 2,04 juta personel saat perang di Ukraina memasuki bulan ketujuh.Moskow belum mengungkapkan kerugian apa pun dalam konflik itu sejak pekan-pekan pertama, tetapi para pejabat Barat dan pemerintah Kyiv mengatakan jumlahnya mencapai ribuan.Peningkatan jumlah angkatan bersenjata tersebut termasuk meningkatkan 137.000 personel tempur menjadi 1,15 juta. Langkah ini mulai berlaku pada 1 Januari 2023, menurut keputusan yang diterbitkan di portal legislatif pemerintah.Terakhir kali Putin menetapkan jumlah tentara Rusia adalah pada November 2017, ketika jumlah personel tempur ditetapkan 1,01 juta dari total angkatan bersenjata, termasuk non-kombatan, sebesar 1,9 juta.Rusia belum mengatakan berapa banyak korban yang dideritanya di Ukraina sejak pekan-pekan pertama kampanye militernya, namun menyatakan bahwa 1.351 tentaranya telah tewas.Namun, perkiraan Barat mengatakan jumlah sebenarnya bisa jadi setidaknya 10 kali lipat dari angka tersebut, sementara Ukraina mengatakan telah menewaskan atau melukai setidaknya 45.000 tentara Rusia sejak konflik – yang disebut Moskow sebagai operasi militer khusus – yang dimulai pada 24 Februari.Kyiv juga enggan mempublikasikan informasi tentang berapa banyak tentaranya yang tewas dalam perang, tetapi pada Senin (22/8) kepala angkatan bersenjata Ukraina mengatakan hampir 9.000 personel telah tewas.Keputusan Putin tersebut tidak mengatakan bagaimana peningkatan jumlah personel angkatan bersenjata itu akan dicapai, tetapi menginstruksikan pemerintah untuk menetapkan anggaran yang sesuai.Menurut laporan tahunan resmi oleh Institut Internasional untuk Studi Strategis, Rusia memiliki 900.000 personel aktif yang mulai bertugas pada awal tahun ini, dan cadangan 2 juta orang yang bertugas dalam lima tahun terakhir.Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Nikolay Patrushev pada Kamis mengatakan, AS dan sekutunya sedang melatih kaum nasionalis, memberi mereka intelijen dan meningkatkan pasokan senjata ke Kyiv dalam upaya untuk memperpanjang konflik di Ukraina.“Anglo-Saxon, yang takut kehilangan dominasi global mereka, telah secara terang-terangan menekan Rusia,” kata Patrushev. Menurutnya, Ukraina menjadi alat untuk melaksanakan rencana ini karena berubah menjadi entitas "anti-Rusia", di mana kudeta dilancarkan, penyebaran ide-ide neo-Nazi difasilitasi dan perselisihan di antara orang-orang Slavia ditaburkan terutama melalui larangan bahasa dan budaya Rusia."Untuk memastikan keamanan Rusia dan melindungi orang-orang Donbass, kami harus meluncurkan operasi militer khusus," kata Patrushev. "AS dan sekutunya melakukan segala upaya untuk memperpanjang konflik ini dengan melatih kaum nasionalis, memberi mereka intelijen dan meningkatkan pasokan senjata dan peralatan militer yang digunakan rezim Kyiv, terutama terhadap warga sipil."“Saya yakin tujuan operasi militer khusus yang ditetapkan oleh Presiden Rusia akan tercapai,” tegas Patrushev.Sumber: Reuters; TASSLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Iran sebut peluang untuk hidupkan perjanjian nuklir tak selamanya terbuka
Indonesia
•
29 Dec 2022

KTT G7 diawali dengan munculnya perbedaan pandangan di antara para pemimpin
Indonesia
•
17 Jun 2025

Jajak pendapat cerminkan perpecahan partisan tentang demokrasi dan ekonomi di AS
Indonesia
•
16 Jan 2024

Rusia sebut tersangka serangan teror Moskow berencana kabur ke Kiev untuk terima imbalan
Indonesia
•
31 Mar 2024


Berita Terbaru

Badan Maritim PBB hentikan evakuasi setelah serangan di Teluk Oman, 11.000 pelaut terjebak di Selat Hormuz
Indonesia
•
26 Jun 2026

Iran desak AS hentikan interpretasi yang bertentangan dengan MoU perdamaian
Indonesia
•
26 Jun 2026

Arab Saudi tangguhkan perjalanan ke tiga negara Afrika, cegah penyebaran Ebola
Indonesia
•
26 Jun 2026

Oman tegaskan Selat Hormuz tak akan kenakan biaya transit, jamin navigasi tetap aman
Indonesia
•
26 Jun 2026
