Peneliti Australia mulai uji coba obat dari racun laba-laba untuk serangan jantung dan strok

Para peserta berlari melewati Sydney Harbour Bridge dalam ajang Sydney Marathon 2025 di Sydney, Australia, pada 31 Agustus 2025. (Xinhua/Ma Ping)
Racun laba-laba jaring corong (funnel-web) Australia berpotensi menyelamatkan nyawa untuk serangan jantung dan strok, telah memasuki uji coba pada manusia.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia) – Sebuah pengobatan yang berpotensi menyelamatkan nyawa untuk serangan jantung dan strok, yang berasal dari racun salah satu laba-laba paling mematikan di dunia, telah memasuki uji coba pada manusia, kata para peneliti di Australia pada Kamis (8/1).Studi klinis fase 1 yang sedang berjalan akan menilai keamanan, tolerabilitas, dan dosis dari IB409, obat baru yang dikembangkan dari molekul yang ditemukan dalam racun laba-laba jaring corong (funnel-web) Australia oleh perusahaan bioteknologi Infensa Bioscience, menurut pernyataan dari Universitas Queensland (University of Queensland/UQ) di Australia.Profesor Glenn King dari Institut Biosains Molekuler (Institute for Molecular Bioscience) UQ mengatakan timnya telah memublikasikan hasil praklinis yang "sangat menjanjikan" dengan Hi1a, protein yang berasal dari racun laba-laba funnel-web di Fraser Island, Negara Bagian Queensland."Kami percaya bahwa Hi1a dapat mengurangi kerusakan pada jantung dan otak saat serangan jantung dan strok dengan mencegah kematian sel yang disebabkan oleh kekurangan oksigen," kata King, seraya menambahkan bahwa timnya telah menetapkan bahwa Hi1a secara efektif melindungi jantung, dengan studi lanjutan yang mengujinya dalam tes praklinis dan meniru skenario pengobatan di kehidupan nyata.Tim Infensa telah mengubah Hi1a menjadi IB409, miniatur peptida yang cocok untuk pengembangan obat, menurut pernyataan UQ."Jika uji klinis Fase 1 dan setelahnya terhadap IB409 menunjukkan bahwa obat ini dapat dengan aman dan efektif mengobati serangan jantung, kita dapat meningkatkan kualitas hidup jutaan orang yang mengidap penyakit jantung di seluruh dunia," kata CEO Infensa sekaligus peneliti UQ, Profesor Mark Smythe.Smythe menekankan bahwa saat ini belum ada obat yang dapat mencegah kerusakan yang disebabkan oleh serangan jantung dan strok.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

China terbitkan pedoman etik untuk penelitian penyuntingan genom manusia
Indonesia
•
11 Jul 2024

Bibit kentang yang terpapar luar angkasa masuki tahap penanaman eksperimental di China utara
Indonesia
•
16 Jan 2024

Stasiun Luar Angkasa Internasional akan tetap beroperasi hingga 2030
Indonesia
•
29 Jul 2025

Orang bertubuh tinggi punya risiko lebih besar idap beragam penyakit
Indonesia
•
03 Jun 2022
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
