Filipina desak reformasi sistem keuangan global untuk bantu negara berpenghasilan menengah

Orang-orang terlihat di Pasar Pettah di Kolombo, Sri Lanka, pada 11 Desember 2024. (Xinhua/Gayan Sameera)
Reformasi sistem keuangan internasional harus segera dilakukan guna mendukung negara-negara berpenghasilan menengah dengan lebih baik lagi di tengah meningkatnya tantangan global.
Manila, Filipina (Xinhua/Indonesia Window) – Filipina menyerukan agar reformasi sistem keuangan internasional segera dilakukan guna mendukung negara-negara berpenghasilan menengah dengan lebih baik lagi di tengah meningkatnya tantangan global, kata Departemen Keuangan Filipina pada Rabu (9/7).Berbicara pada Konferensi Internasional tentang Pembiayaan untuk Pembangunan (International Conference on Financing for Development) keempat yang digelar pada 2 Juli di Sevilla, Spanyol, Wakil Menteri Keuangan Filipina Joven Balbosa mendesak peningkatan representasi negara-negara berkembang, peninjauan terhadap kebijakan biaya tambahan dan hak penarikan khusus, dan peningkatan porsi kuota dalam arsitektur keuangan global.Konferensi yang mempertemukan para pemimpin dan pemangku kepentingan pembangunan global itu mengadopsi Komitmen Sevilla, sebuah kerangka kerja pembiayaan global yang diperbarui dan menekankan pada peran bank-bank pembangunan multilateral, kerja sama pembangunan yang diperluas, kesinambungan utang, dan reformasi tata kelola.Mewakili Kelompok 77 (Group of 77/G77) dan juga Kelompok yang Berpikiran Sama untuk Negara-Negara Berpenghasilan Menengah (Like-Minded Group for Middle-Income Countries/LMG-MICs), Filipina berperan dalam negosiasi terkait dokumen hasil konferensi itu. Balbosa menggarisbawahi perlunya bergerak "melampaui PDB" dalam mengukur pembangunan, mengadvokasi indikator-indikator yang mencerminkan tantangan spesifik negara-negara berpenghasilan menengah dengan lebih baik."Untuk mengatasi jebakan negara berpenghasilan menengah, dukungan yang disesuaikan sangatlah penting," ujar Balbosa, seraya menyambut baik usulan Spanyol untuk meluncurkan Beyond GDP Global Alliance dan menyatakan kesiapannya untuk terlibat dalam kelompok pakar sekretaris jenderal PBB mengenai sejumlah indikator pembangunan baru.Dia juga mendukung terciptanya proses yang dipimpin PBB untuk arsitektur utang global yang lebih inklusif dan menekankan pentingnya pendanaan lunak, pendanaan iklim, dan bantuan teknis tanpa mengorbankan komitmen Bantuan Pembangunan Resmi.Balbosa menutup pidatonya dengan menyerukan peningkatan pembangunan kapasitas guna memastikan bahwa pembiayaan pembangunan mengarah pada kemajuan yang nyata.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Indonesia kurangi impor LPG untuk keamanan energi
Indonesia
•
15 Sep 2020

Survei – Inflasi masih jadi isu utama bagi kalangan usaha kecil di AS pada Juli 2024
Indonesia
•
15 Aug 2024

Minyak turun di tengah kekhawatiran pandemik dan dolar AS yang menguat
Indonesia
•
06 Apr 2022

Reformasi redakan dampak krisis perbankan Eropa, namun risiko tetap ada
Indonesia
•
27 Mar 2023
Berita Terbaru

Feature – Tianlala bawa aroma dan manis teh susu dari China ke Indonesia
Indonesia
•
29 Jan 2026

Laba bersih Tesla anjlok 46 persen pada 2025
Indonesia
•
29 Jan 2026

Feature – Kelapa Indonesia lebih mudah masuki pasar China berkat jalur pengiriman dan kebijakan preferensial Hainan
Indonesia
•
28 Jan 2026

Penjualan EV di Indonesia naik 141 persen pada 2025, merek-merek China menonjol
Indonesia
•
27 Jan 2026
