
Roket komersial China Gravity-1 lakukan penerbangan perdana

Roket komersial Gravity-1 yang mengangkut tiga satelit lepas landas dari perairan lepas pantai Haiyang, Provinsi Shandong, China timur, pada 11 Januari 2024. (Xinhua/Li Ziheng)
Roket komersial China Gravity-1 mampu membawa muatan sekitar 6,5 ton ke orbit rendah Bumi dan 4,2 ton ke orbit sinkron matahari pada ketinggian 500 kilometer.
Haiyang, Shandong, China (Xinhua) – Roket pengangkut satelit milik China, Gravity-1, melakukan penerbangan perdananya dari perairan lepas pantai Haiyang, Provinsi Shandong, China timur, pada Kamis (11/1).Roket tersebut lepas landas pada pukul 13.30 Waktu Beijing atau 12.30 WIB, mengirim tiga satelit ke orbit yang telah direncanakan. Misi lepas pantai itu dilakukan Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan.Dikembangkan oleh perusahaan kedirgantaraan komersial China, OrienSpace, roket ini merupakan wahana peluncuran berbahan bakar propelan padat terbesar di dunia sekaligus roket komersial pertama China yang dilengkapi dengan mesin pendorong (booster) penguat (strap-on).Roket ini meningkatkan kapasitas China untuk peluncuran satelit orbit menengah dan rendah yang beragam dan berskala besar serta memperkaya jenis wahana peluncurannya.Roket skala menengah ini memiliki tinggi 30 meter, dan tingkatan inti serta mesin pendorongnya berdiameter 2,65 meter, jelas Bu Xiangwei, kepala perancang roket tersebut.Dengan bobot lepas landas sekitar 400 ton dan daya dorong lepas landas 600 ton, roket ini dapat membawa muatan sekitar 6,5 ton ke orbit rendah Bumi dan 4,2 ton ke orbit sinkron matahari pada ketinggian 500 kilometer.Memiliki kapasitas angkut yang paling kuat di antara roket komersial China, roket ini dapat mengirim 30 satelit kecil berbobot 100 kilogram dalam satu kali peluncuran dan menjalankan misi peluncuran jaringan satelit yang mengorbit di orbit menengah dan rendah, serta muatan antariksa berukuran sedang dan besar.Fairing setinggi 9 meter yang digunakan oleh Gravity-1 menjadi yang terbesar di antara roket komersial China saat ini. Dengan diameter 4,2 meter, mirip dengan fairing yang digunakan oleh roket pengangkut Long March-7 untuk transportasi kargo stasiun ruang angkasa China, roket ini dapat mengangkut satelit dengan jumlah yang lebih banyak dan ukuran yang lebih besar.Selama tiga tahun pengembangannya, tim peneliti berhasil mengatasi serangkaian masalah teknis dalam berbagai terobosan, ujar Yao Song, salah satu CEO Orienspace.Yao mencontohkan, sambungan (joint) antara booster roket dan tingkatan inti roket harus hanya seukuran selembar kertas A4, sementara tim berhasil menjadikannya kuat untuk menahan daya dorong mencapai 200 ton.Peluncuran Gravity-1 menandai kemajuan signifikan dalam inovasi wahana peluncuran komersial independen. Di tengah upaya berkelanjutan China di bidang ini dalam beberapa tahun terakhir, berbagai hasil positif telah dicapai, seperti Zhuque-2, roket metana-oksigen cair pertama di dunia yang berhasil memasuki orbitnya, dan Lijian-1, yang lepas landas dengan membawa 26 satelit.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Raksasa teknologi China Huawei luncurkan sederet produk pintar terbaru di Turkiye
Indonesia
•
18 Jan 2024

Alat pencitraan berbasis AI mampu deteksi lesi otak penyebab epilepsi pada anak
Indonesia
•
02 Oct 2025

Limbah cangkang diubah jadi batu bata ramah lingkungan di Taiwan
Indonesia
•
01 Oct 2022

Situs prasejarah berusia 13.200 tahun ditemukan di China timur
Indonesia
•
08 Jan 2023


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
