
Rusia terima Ukraina yang netral dan bersahabat sebagai tetangga di masa depan

Putaran kedua pembicaraan antara Rusia dan Ukraina yang dimediasi Amerika Serikat diadakan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), pada 4 Februari 2026. (Xinhua/WAM)
Putaran kedua perundingan antara Rusia dan Ukraina gagal mencapai terobosan substantif mengenai isu-isu inti seperti pengaturan wilayah dan gencatan senjata.
Moskow, Rusia (Xinhua/Indonesia Window) – Ukraina harus menjadi "negara yang netral dan bersahabat" untuk menjadi tetangga Rusia dalam jangka panjang, kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov dalam wawancara dengan Russia Today (RT) pada Kamis (5/2).
"Ukraina harus bersahabat. Tidak harus menjadi sekutu, tetapi negara yang netral dan bersahabat," ujar Lavrov, menurut versi bahasa Inggris dari wawancara yang dipublikasikan oleh Kementerian Luar Negeri Rusia itu.
"Hal ini, tentu saja, menyiratkan respek tidak hanya terhadap hak-hak masyarakat di wilayah yang akan tetap menjadi bagian dari Ukraina, bukan hanya respek terhadap hak-hak mereka untuk mengakses kebutuhan dasar seperti kehangatan, makanan, dan air, tetapi juga respek terhadap, jika boleh dikatakan, hak asasi manusia fundamental mereka, termasuk bahasa, pendidikan, dan agama," kata Lavrov.
Untuk menegaskan kembali, Ukraina yang akan menandatangani perjanjian tersebut tidak boleh melanggar hukum internasional maupun Konstitusi Ukraina, yang menjamin hak-hak kelompok etnis minoritas, imbuhnya.
Sang menlu menyatakan bahwa Rusia telah berulang kali menjelaskan kepada Washington bahwa bagi Moskow, prioritas dalam penyelesaian masalah Ukraina bukanlah wilayah, melainkan rakyat. "Prioritas kami adalah rakyat yang hidup di wilayah-wilayah ini. Rakyat Rusia yang berbicara dan membesarkan anak-anak mereka untuk berbicara bahasa Rusia, yang telah membangun wilayah-wilayah ini selama berabad-abad."
Lavrov mengatakan rencana penyelesaian perdamaian Ukraina yang dirujuk oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang sebagian isinya baru dibaca pihak Rusia secara terpisah-pisah, sama sekali tidak menyebutkan pemulihan hak-hak etnis Rusia dan minoritas nasional lainnya, maupun penegakan kebebasan beragama.
Dia menekankan bahwa kebebasan linguistik dan agama tercantum dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). "Hal-hal tersebut tidak boleh dijadikan alat tawar-menawar."
Putaran kedua perundingan antara Rusia dan Ukraina yang dimediasi Amerika Serikat berakhir di Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab (UEA), pada Kamis, dengan kedua pihak menyepakati pertukaran tahanan skala besar, tetapi gagal mencapai terobosan substantif mengenai isu-isu inti seperti pengaturan wilayah dan gencatan senjata.
Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina Rustem Umerov mengatakan delegasi Ukraina mengupayakan "perdamaian yang bermartabat dan langgeng," tanpa mengungkapkan hasil spesifik dari perundingan tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Kanada setujui penggunaan vaksin Moderna untuk anak-anak
Indonesia
•
18 Mar 2022

China dengan tegas tolak tindakan negatif Jepang di Kuil Yasukuni
Indonesia
•
23 Apr 2024

Trump kembali utarakan niat caplok Greenland dalam pertemuan dengan Sekjen NATO
Indonesia
•
14 Mar 2025

Meta harus bayar ganti rugi 10,16 triliun rupiah terkait dampak Facebook dan Instagram pada remaja
Indonesia
•
07 Aug 2026


Berita Terbaru

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026

Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4, korban tembus 111 orang
Indonesia
•
11 Aug 2026
