
Satelit eksplorasi matahari pertama China capai kemajuan

Roket Long March-2D yang mengangkut satelit eksplorasi matahari pertama China lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan di Provinsi Shanxi, China utara, pada 14 Oktober 2021. (Xinhua/Zheng Bin)
Eksplorasi matahari yang dilakukan oleh satelit Xihe diluncurkan pada Oktober tahun lalu, dan beroperasi di orbit sinkron matahari di ketinggian rata-rata 517 kilometer, dengan spektrometer pencitraan Hα matahari sebagai muatan ilmiah utamanya.
Jakarta (Indonesia Window) – Satelit eksplorasi matahari pertama China telah mengamati hampir 100 erupsi matahari serta menyelesaikan eksperimen dan uji di orbitnya, ungkap Administrasi Luar Angkasa Nasional China (China National Space Administration/CNSA) dalam sebuah konferensi pers pada Selasa (30/8).Data ilmiah dari sejumlah observasi satelit tersebut secara resmi dirilis dan dibagikan kepada dunia, tutur Zhao Jian, kepala perancang proyek Gaofen China, dalam konferensi pers tentang kemajuan satelit ini.Diluncurkan pada Oktober tahun lalu, satelit Xihe beroperasi di orbit sinkron matahari di ketinggian rata-rata 517 kilometer, dengan spektrometer pencitraan Hα matahari sebagai muatan ilmiah utamanya.Satelit ini berhasil, untuk pertama kalinya secara global, mendapatkan struktur halus (fine structure) dari garis spektrum Hα, SiI, dan FeI matahari di orbit, yang dapat secara langsung merefleksikan karakteristik erupsi matahari, urai Zhao.Melalui kerja sama dengan China Aerospace Science and Technology Corporation, Universitas Nanjing, dan Akademi Ilmu Pengetahuan China, CNSA berhasil melaksanakan verifikasi performa di orbit dan aplikasi teknik dari teknologi platform satelit dengan stabilitas dan presisi ultratinggi.Tidak seperti desain tradisional, platform satelit baru ini menggunakan teknologi kontrol levitasi magnetik (magnetic levitation/maglev) untuk memastikan bahwa pencitraan muatan tidak terpengaruh oleh vibrasi platform serta mendapatkan pencitraan yang lebih stabil dan akurat, lanjut Zhao.Teknologi ini diharapkan dapat digunakan dalam misi luar angkasa masa depan China, termasuk pengindraan jarak jauh resolusi tinggi, deteksi stereoskopik matahari, dan penemuan planet ekstrasurya, imbuh Zhao.Sumber: XinhuaLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Fosil vertebrata 101 juta tahun ditemukan di timur laut China
Indonesia
•
02 Oct 2021

Studi di Selandia Baru tunjukkan El Nino perpanjang musim serbuk sari dan risiko alergi
Indonesia
•
18 Sep 2025

Feature – Teknologi mutakhir hidupkan kembali penemuan kuno
Indonesia
•
30 Jun 2025

Studi: Perubahan iklim picu meningkatnya kekeringan salju
Indonesia
•
06 May 2025


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
