
China luncurkan satelit meteorologi Fengyun-3F

Roket Long March-4C yang mengangkut satelit Fengyun-3F lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di China barat laut pada 3 Agustus 2023. (Xinhua/Wang Jiangbo)
Satelit Fengyun-3F China mampu mendeteksi informasi profil kelembapan dan suhu atmosfer yang sulit dibedakan oleh mata manusia, memungkinkan satelit itu untuk melakukan pemindaian atmosfer tiga dimensi yang lebih akurat, sehingga topan dan hujan badai dapat dilacak secara efektif.
Beijing, China (Xinhua) – China pada Kamis (3/8) meluncurkan sebuah satelit ke luar angkasa dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di China barat laut.Satelit Fengyun-3F (FY-3F) diluncurkan pada pukul 11.47 Waktu Beijing (pukul 10.47 WIB) oleh roket pengangkut Long March-4C dan berhasil memasuki orbit yang direncanakan.Satelit ini dikembangkan oleh Akademi Teknologi Penerbangan Luar Angkasa Shanghai (Shanghai Academy of Spaceflight Technology/SAST) di bawah China Aerospace Science and Technology Corporation, dan sistem aplikasi daratnya dioperasikan oleh Administrasi Meteorologi China (China Meteorological Administration/CMA).Sebagai salah satu satelit meteorologi dengan indikator kinerja dan konfigurasi muatan yang telah mencapai level tinggi internasional, FY-3F akan mengambil alih tugas-tugas di orbit dari satelit FY-3C serta menyediakan layanan di berbagai bidang, seperti prakiraan cuaca, prediksi iklim, pemantauan bencana, dan pemantauan lingkungan.Satelit baru ini dilengkapi dengan sebuah termometer gelombang mikro yang canggih, sebuah higrometer gelombang mikro, dan sebuah alat pendeteksi atmosfer hiperspektral inframerah, kata Li Haisheng dari SAST, yang bertanggung jawab atas misi satelit ini.Jika dibandingkan dengan FY-3C, jumlah kanal deteksi vertikal atmosfer yang disediakan oleh FY-3F meningkat lebih dari 40 kali lipat, yang berarti satelit baru ini akan memiliki pemahaman lebih akurat terkait stratifikasi kelembapan dan suhu atmosfer, ujar Li.Dengan menggabungkan instrumen pendeteksi atmosfer optik dan gelombang mikro, FY-3F mampu mendeteksi informasi profil kelembapan dan suhu atmosfer yang sulit dibedakan oleh mata manusia, memungkinkan satelit itu untuk melakukan pemindaian atmosfer tiga dimensi yang lebih akurat, sehingga topan dan hujan badai dapat dilacak secara efektif.Satelit baru ini akan semakin meningkatkan ketepatan waktu dan akurasi prakiraan cuaca serta memberikan kontribusi lebih besar terhadap upaya pencegahan dan mitigasi bencana, kata Chen Zhenlin, kepala CMA.FY-3F juga memiliki fitur pemantauan dinamis terhadap karakteristik distribusi spasiotemporal dan tren gas jejak atmosfer global yang terus berubah, yang dicapai dengan presisi tinggi dan frekuensi tinggi.Selain itu, satelit Fengyun-3F China memiliki kemampuan pendeteksian ultraviolet yang telah ditingkatkan, dan dilengkapi dengan dua detektor pengindraan jarak jauh hiperspektral ultraviolet yang baru dikembangkan, kata Wang Jinhua dari SAST. Wang adalah kepala perancang satelit tersebut.Dari detektor ini, para peneliti dapat memperoleh informasi yang berguna untuk penelitian tentang perubahan iklim, kimia atmosfer, dan lingkungan atmosfer.Saat ini, terdapat sembilan satelit meteorologi Fengyun yang berada di orbit, menyediakan produk dan layanan data untuk 129 negara dan kawasan di seluruh dunia.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim ilmuwan di Australia ciptakan plastik alami untuk penggunaan sehari-hari
Indonesia
•
03 Oct 2025

Studi: Pemanasan global ubah pola curah hujan dan hujan salju ekstrem di belahan Bumi Utara
Indonesia
•
31 Oct 2025

Cedera, infeksi, dan kelaparan jadi penyebab utama kematian penguin khas Selandia Baru
Indonesia
•
04 May 2025

Singapura beri penumpang pilihan bayar lebih untuk kurangi jejak karbon saat terbang
Indonesia
•
08 Jun 2022


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
