
Lubang bor batu bara di Australia lepaskan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar

Anak-anak bermain di Adventure Mountain di pusat rekreasi dan pariwisata be-MINE di Beringen, Belgia, pada 4 Oktober 2021. Pada 2009, Beringen memulai sebuah proyek bertajuk 'be-MINE' yang bertujuan untuk membangun kembali sebuah tambang batu bara yang telah ditinggalkan. Usai melakukan upaya selama bertahun-tahun, bekas tambang batu bara itu kini bertransformasi menjadi sebuah pusat rekreasi dan pariwisata. (Xinhua/Zhang Cheng)
Satu lubang bor batu bara terbengkalai di Australia merilis metana yang setara dengan emisi gas rumah kaca dari 10.000 unit mobil per tahun.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Para peneliti menemukan bahwa satu lubang bor batu bara terbengkalai di Australia merilis metana yang setara dengan emisi gas rumah kaca dari 10.000 unit mobil per tahun.Dengan perkiraan adanya 130.000 lubang bor serupa di seluruh Negara Bagian Queensland, Australia, menutup lokasi-lokasi dengan emisi tinggi dapat menjadi cara yang hemat biaya untuk mengurangi emisi, demikian menurut pernyataan yang dirilis pada Rabu (3/9) oleh University of Queensland (UQ) Australia.Para peneliti menggunakan teknologi pendeteksi gas canggih untuk menentukan bahwa 235 ton metana dilepaskan setiap tahunnya dari satu lubang bor batu bara terbengkalai di pedesaan Queensland, yang mengungkap sumber metana yang selama ini berpotensi tidak dilaporkan di atmosfer, papar pernyataan tersebut."Dalam hal dampak iklim, itu setara dengan emisi dari 10.000 unit mobil baru yang masing-masing menempuh jarak 12.000 kilometer (km) setiap tahun," kata Associate Professor Phil Hayes dari Pusat Penelitian Transisi Gas & Energi (Gas & Energy Transition Research Center) UQ, sekaligus salah satu penulis studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science of the Total Environment yang berbasis di Belanda.Tim peneliti melakukan pengukuran emisi selama sepekan di sebuah lahan pertanian di Cekungan Surat di Queensland selatan bagian tengah, menggunakan sistem Quantum Gas LiDAR portabel, yang lebih akurat dalam menangkap emisi yang bervariasi seiring waktu dibandingkan metode pengukuran umum saat ini, seperti sensor genggam.Rekan penulis dari UQ, Sebastian Hoerning, mengatakan bahwa terdapat ribuan lubang tambang batu bara yang terbengkalai dan belum diketahui seberapa baik lubang-lubang tersebut ditutup, jika ada, atau seberapa banyak metana yang mungkin dirilis lubang-lubang itu."Menutup lubang bor yang paling banyak mengeluarkan emisi merupakan cara yang mudah dan hemat biaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan cepat," ujar Hayes.Para peneliti berencana untuk memperluas studi mereka dengan mencakup lebih banyak lubang bor batu bara dan mengeksplorasi sumber emisi potensial lainnya seperti sumur bor air.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Laporan sebut teknologi AI berdayakan pengembangan media
Indonesia
•
15 Oct 2024

Tim astronom temukan petunjuk perihal sumber semburan gelombang radio cepat
Indonesia
•
14 May 2023

Ahli: Robot tak akan gantikan peran dokter dan perawat
Indonesia
•
24 Jan 2020

Terobosan China dalam pengobatan penyakit jantung hipertrofik tarik perhatian dunia
Indonesia
•
31 Jul 2024


Berita Terbaru

Peneliti China kembangkan baterai lithium-sulfur baru untuk bantu ‘drone’ terbang lebih jauh
Indonesia
•
12 May 2026

Aplikasi AI Libra dukung aktivitas korporasi dan bisnis
Indonesia
•
12 May 2026

Atasi tantangan daya tahan, ilmuwan di China lengkapi ‘drone’ dengan ‘jantung hidrogen’
Indonesia
•
12 May 2026

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026
