China jadi negara pertama yang berhasil terapkan teknologi energi hidrogen di Antarktika

Kapal riset pemecah es milik China, Xuelong 2 (Snow Dragon 2), terlihat di dekat Stasiun Qinling milik China di Antarktika pada 27 Desember 2024. (Xinhua/Huang Taoming)
Sel bahan bakar hidrogen yang dikembangkan secara mandiri oleh China sukses menghasilkan listrik di Stasiun Qinling milik negara tersebut di Antarktika, menandai pertama kalinya teknologi energi hidrogen berhasil diterapkan di wilayah kutub yang ekstrem.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sel bahan bakar hidrogen yang dikembangkan secara mandiri oleh China sukses menghasilkan listrik di Stasiun Qinling milik negara tersebut di Antarktika, menandai pertama kalinya teknologi energi hidrogen berhasil diterapkan di wilayah kutub, lansir China Science Daily pada Rabu (5/3).Dikembangkan oleh perusahaan teknologi energi hidrogen di bawah naungan State Power Investment Corporation, sel bahan bakar tersebut berfungsi sebagai komponen inti dalam sistem jaringan mikro di Stasiun Qinling. Sistem ini dilengkapi dengan tangki penyimpanan hidrogen berkapasitas maksimal 50 meter kubik. Ketika beroperasi secara independen, sel bahan bakar tersebut dapat mengalirkan daya yang kontinu ke Stasiun Qinling selama maksimal 24 hari, dengan output maksimal 30 kilowatt.Dirancang untuk skalabilitas modular, sistem sel bahan bakar ini mencakup rentang daya dari 50 kilowatt hingga puluhan megawatt. Sistem ini dapat mencapai efisiensi pembangkitan listrik sebesar 50 persen serta efisiensi gabungan panas dan daya lebih dari 90 persen, dengan masa pakai mencapai 40.000 jam.Dibandingkan pembangkit listrik konvensional berbasis bahan bakar fosil, penggunaan sel bahan bakar hidrogen ini dapat menghemat sekitar 400 gram batu bara standar dan mengurangi emisi karbon dioksida sekitar 1 kilogram untuk setiap kilowatt-jam listrik yang dihasilkannya.
Sebuah mobil salju mengangkut suplai ke Stasiun Zhongshan China di Antarktika pada 9 Desember 2024. Dalam ekspedisi Antarktika China ke-41, kapal riset pemecah es Xuelong dan Xuelong 2, atau Snow Dragon dan Snow Dragon 2, melakukan operasi penurunan muatan di sekitar Stasiun Zhongshan, basis penelitian China di Antarktika. (Xinhua/Huang Taoming)
Anggota tim ekspedisi Antarktika China ke-41 menurunkan suplai di Antarktika pada 9 Desember 2024. Dalam ekspedisi Antarktika China ke-41, kapal riset pemecah es Xuelong dan Xuelong 2, atau Snow Dragon dan Snow Dragon 2, melakukan operasi penurunan muatan di sekitar Stasiun Zhongshan, basis penelitian China di Antarktika. (Xinhua/Huang Taoming)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Teleskop James Webb NASA ungkap asal molekul dan kimia planet ekstrasurya
Indonesia
•
25 Nov 2022

Hongaria hadapi fase pertahanan banjir paling menantang
Indonesia
•
20 Sep 2024

Jumlah serangga menurun, Bumi semakin terancam
Indonesia
•
05 Jun 2020

Perubahan iklim dorong deteksi DNA teritip invasif di Arktik Kanada
Indonesia
•
15 Sep 2025
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
