Perangkat pintar bantu penyandang tunanetra bergerak dengan aman

Seorang murid dari Sekolah Tunanetra Beijing menyentuh paku keling logam pada pintu di Museum Istana di Beijing, ibu kota China, pada 1 Desember 2024. (Xinhua/Li Xin)
Sistem kecerdasan buatan baru yang dikembangkan oleh tim peneliti China dapat membantu para penyandang tunanetra dalam bergerak dengan aman di lingkungan sekitarnya.
Shanghai, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti dari China belum lama ini telah mengembangkan sebuah sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) baru yang dapat dipakai untuk membantu para penyandang tunanetra dalam bergerak di lingkungan sekitarnya. Temuan ini dipublikasikan pada Senin (14/4) dalam jurnal Nature Machine Intelligence.Sistem ini mengintegrasikan umpan balik visual, pendengaran, dan sentuhan, dengan menggunakan algoritme AI untuk memindai lingkungan sekitar. Ketika pengguna mendekati rintangan atau objek, sistem ini akan mengirimkan sinyal untuk memandu mereka melalui gerakan, penanganan objek, dan tugas-tugas visual lainnya, sehingga meningkatkan kemandirian mereka dalam kehidupan sehari-hari.Terobosan dalam bidang rekayasa biomedis ini dipimpin oleh Gu Leilei, seorang profesor di Universitas Jiao Tong Shanghai, berkolaborasi dengan para peneliti dari Universitas Fudan, Universitas Sains dan Teknologi Hong Kong, Universitas Normal China Timur, serta mitra-mitra lainnya.Tim peneliti tersebut merancang sistem bantuan yang ramah pengguna ini dengan meningkatkan fungsionalitas melalui algoritma AI yang canggih dan integrasi perangkat keras tanpa hambatan.Dilengkapi dengan kamera untuk menangkap data visual, sistem ini menggunakan AI guna menganalisis lingkungan sekitar, mendeteksi rintangan serta target utama, dan kemudian memberikan instruksi melalui penyuara jemala (headphone) konduksi tulang dan tempelan kulit (skin patch) elektronik yang dipasang pada pergelangan tangan.Sinyal-sinyal ini memandu pengguna untuk bergerak maju, berbelok ke kiri atau ke kanan, atau menyesuaikan jalur mereka secara waktu nyata (real time) hingga mencapai tujuan.Dalam serangkaian uji coba yang melibatkan robot humanoid dan partisipan penyandang tunanetra, baik di lingkungan virtual maupun di dunia nyata, sistem ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam efisiensi navigasi.Para pengguna berhasil bermanuver melalui labirin dan ruangan yang penuh barang, serta melakukan tugas-tugas menggenggam objek dengan lebih mudah.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Kandungan karbon dan air ditemukan pada sampel asteroid Bennu NASA
Indonesia
•
13 Oct 2023

Studi: Kasus kanker pada wanita naik di negara yang dilanda panas ekstrem
Indonesia
•
29 May 2025

Peneliti temukan katak jenis baru endemik Sulawesi dinamakan Oreophryne riyantoi
Indonesia
•
03 Nov 2023

Feature – Industri fotovoltaik ciptakan manfaat ekologi dan ekonomi di gurun China barat laut
Indonesia
•
19 Jun 2024
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
