
NASA sebut 2022 jadi tahun terhangat kelima di tengah tren pemanasan global

Foto yang diabadikan pada 20 Juli 2022 ini menunjukkan asap dari kebakaran hutan yang membubung di El Barco de Valdeorras, Galicia, Spanyol. (Xinhua/Junta de Galicia)
Suhu Bumi pada 2022 tercatat sekitar 2 derajat Fahrenheit (sekitar 1,11 derajat Celsius) lebih hangat dibandingkan rata-rata suhu pada akhir abad ke-19.
Los Angeles, AS (Xinhua) – Rata-rata suhu permukaan Bumi pada 2022 setara dengan rata-rata suhu pada 2015 sebagai tahun terhangat kelima dalam sejarah, menurut analisis yang dirilis pada Kamis (12/1) oleh Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (National Aeronautics and Space Administration/NASA) Amerika Serikat (AS).Melanjutkan tren pemanasan jangka panjang planet ini, suhu global pada 2022 tercatat 1,6 derajat Fahrenheit (0,89 derajat Celsius) di atas rata-rata untuk periode dasar NASA (1951-1980), menurut para ilmuwan dari Goddard Institute for Space Studies (GISS), pusat pemodelan iklim terdepan NASA."Tren pemanasan ini mengkhawatirkan," kata Administrator NASA Bill Nelson. "Iklim kita yang menghangat telah meninggalkan jejak. Kebakaran hutan menjadi kian intensif; angin topan menjadi semakin kuat; kekeringan mendatangkan malapetaka, dan level permukaan laut meningkat.""NASA memperkuat komitmennya untuk berkontribusi dalam mengatasi perubahan iklim. Observatorium Sistem Bumi kami akan menyediakan data mutakhir untuk mendukung pemodelan, analisis, dan prediksi iklim guna membantu umat manusia menghadapi perubahan iklim planet kita," katanya.Sembilan tahun terakhir ini merupakan tahun-tahun terhangat sejak pencatatan di era modern dimulai pada tahun 1880. Ini berarti Bumi pada 2022 tercatat sekitar 2 derajat Fahrenheit (sekitar 1,11 derajat Celsius) lebih hangat dibandingkan rata-rata suhu pada akhir abad ke-19, menurut NASA."Penyebab dari tren pemanasan ini adalah aktivitas manusia yang terus memompa gas rumah kaca dalam jumlah besar ke atmosfer, dan dampak jangka panjang terhadap planet juga akan terus berlanjut," kata Direktur GISS Gavin Schmidt.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pesantren Kilat Ramadhan ajak kaum muda Bogor peduli lingkungan dan hargai makanan
Indonesia
•
16 Mar 2025

FIFA selidiki dugaan pelanggaran Argentina di Piala Dunia 2026, apa saja tuduhannya?
Indonesia
•
31 Jul 2026

Bunga teratai dari biji berusia ribuan tahun mekar di China selatan
Indonesia
•
27 Jun 2024

Pengobatan tradisional China kian populer di dunia
Indonesia
•
05 Sep 2022


Berita Terbaru

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026
