Laporan ungkap wilayah Arktik alami tahun terhangat dalam sejarah sejak 1900

Foto yang diabadikan pada 22 Juni 2024 ini menunjukkan gletser yang sedang mencair di Svalbard, Norwegia. (Xinhua/Zhao Dingzhe)
Suhu udara permukaan Arktik dari Oktober 2024 hingga September 2025 menunjukkan suhu terhangat yang pernah tercatat sejak 1900.
Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Suhu udara permukaan di seluruh Arktik dari Oktober 2024 hingga September 2025 menunjukkan suhu terhangat yang pernah tercatat sejak 1900, demikian menurut sebuah laporan tahunan yang dirilis pada Selasa (16/12) oleh Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA) Amerika Serikat.Musim gugur 2024 dan musim dingin 2025 mencatatkan cuaca yang lebih hangat di seluruh Arktik, masing-masing menempati peringkat pertama dan kedua terhangat dalam catatan sejarah, ungkap laporan tahunan Arctic Report Card.Laporan tahun ini menyoroti wilayah yang menghangat jauh lebih cepat daripada bagian lainnya di Bumi, mendokumentasikan transformasi besar yang sedang berlangsung. Transformasi tersebut meliputi atlantifikasi (atlantification), yang mengalirkan air lebih hangat dan lebih asin ke arah utara; ekspansi spesies boreal ke arah utara ke ekosistem Arktik; dan "sungai yang berkarat" karena lapisan tanah beku abadi (permafrost) mencair dan membawa serta kandungan besi dan logam lainnya, papar NOAA.Laporan tersebut menyebutkan bahwa 10 tahun terakhir merupakan periode 10 tahun terpanas yang pernah tercatat di Arktik. Sejak 2006, suhu tahunan Arktik telah meningkat lebih dari dua kali lipat dari laju kenaikan suhu global.Curah hujan di seluruh Arktik dari Oktober 2024 hingga September 2025 juga mencapai rekor tertinggi. Total curah hujan musiman untuk musim dingin, musim semi, dan musim gugur termasuk ke dalam lima tertinggi sejak 1950.Pada Maret 2025, es laut Arktik pada musim dingin mencapai luas maksimum tahunan paling rendah dalam catatan satelit selama 47 tahun, lanjut laporan tersebut.Pengamatan terbaru juga menunjukkan hilangnya gletser dan es dalam jumlah besar di seluruh Arktik, Greenland, dan Alaska, yang mencerminkan kondisi ekstrem regional maupun tren penurunan jangka panjang.Menurut NOAA, pencairan gletser yang terus berlanjut berkontribusi pada kenaikan permukaan laut global yang berlangsung terus-menerus, mengancam pasokan air di komunitas Arktik, meningkatkan risiko banjir yang destruktif, dan memperparah bahaya tanah longsor dan tsunami yang membahayakan manusia, infrastruktur, serta garis pantai.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Peneliti China dan Myanmar temukan bukti baru tentang terbentuknya Dataran Tinggi Qinghai-Tibet
Indonesia
•
28 Aug 2022

Studi ungkap hubungan antara pencairan lapisan es bipolar asimetris dan perubahan iklim global
Indonesia
•
05 Aug 2024

COVID-19 – Ahli: Terlalu dini menilai berbahayanya strain Delta
Indonesia
•
28 Jun 2021

COVID-19 – Rusia kembangkan tiga vaksin lagi
Indonesia
•
20 Nov 2020
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
