
2025 diperkirakan akan jadi salah satu dari tiga tahun terpanas sepanjang sejarah

Seorang anak bersepeda di bawah sistem pendingin di tengah gelombang panas di Wina, Austria, pada 14 Agustus 2025. (Xinhua/He Canling)
Tahun terpanas kedua atau ketiga mungkin terjadi pada 2025, sejak pencatatan dimulai, kemungkinan sama dengan tahun 2023 dan hanya sedikit di bawah tahun 2024, yang merupakan tahun terpanas dalam catatan.
Brussel, Belgia (Xinhua/Indonesia Window) – Tahun 2025 hampir dapat dipastikan akan menjadi salah satu dari tiga tahun terpanas sepanjang sejarah sejak pencatatan dimulai, dengan Oktober 2025 menjadi Oktober terpanas ketiga secara global, demikian menurut data yang dirilis oleh Layanan Perubahan Iklim Copernicus (Copernicus Climate Change Service/C3S) Uni Eropa (UE) pada Kamis (6/11).Suhu udara permukaan global rata-rata pada Oktober adalah 15,14 derajat Celsius, 0,70 derajat di atas rata-rata periode 1991-2020 dan 1,55 derajat di atas tingkat praindustri (1850-1900). Data menunjukkan bahwa suhu tersebut 0,16 derajat lebih dingin dibandingkan rekor Oktober 2023 dan 0,11 derajat lebih dingin dibandingkan Oktober 2024.Rata-rata 12 bulan dari November 2024 hingga Oktober 2025 berada di angka 1,50 derajat di atas tingkat praindustri, melanjutkan periode panjang suhu yang luar biasa tinggi.C3S menyebut tahun 2025 hampir dapat dipastikan akan menjadi tahun terpanas kedua atau ketiga sejak pencatatan dimulai, kemungkinan sama dengan tahun 2023 dan hanya sedikit di bawah tahun 2024, yang merupakan tahun terpanas dalam catatan."Meskipun 2025 mungkin bukan tahun terpanas, namun tahun ini hampir pasti akan masuk ke dalam tiga besar. Tiga tahun terakhir mencatat suhu yang luar biasa tinggi, dan rata-rata untuk periode 2023-2025 kemungkinan akan melebihi 1,5 derajat Celsius, untuk pertama kalinya dalam periode tiga tahun," kata Kepala Strategi Iklim C3S Samantha Burgess.Suhu permukaan laut global pada Oktober tahun ini tetap mendekati rekor tertinggi, dengan rata-rata 20,54 derajat Celsius di wilayah antara 60 derajat lintang utara hingga 60 derajat lintang selatan. Suhu tersebut merupakan suhu tertinggi ketiga dalam catatan.Pasifik Utara mencatat tingkat kehangatan yang ekstrem, sementara kondisi yang lebih dingin terpantau di wilayah tengah dan timur Pasifik ekuatorial, menunjukkan transisi menuju kondisi La Nina yang lemah, ungkap C3S.Di Arktika, luas es laut adalah 12 persen di bawah rata-rata, menempati peringkat kedelapan terendah untuk bulan Oktober, sementara es laut Antarktika mencatat luas es terendah ketiga untuk bulan Oktober, atau 6 persen di bawah rata-rata, tunjuk data tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Reruntuhan delapan situs kota kuno ditemukan di Kawasan Baru Xiong'an China
Indonesia
•
02 Apr 2024

China bangun konstelasi satelit untuk fasilitasi konektivitas pintar dari luar angkasa
Indonesia
•
30 May 2025

China dirikan lembaga penelitian kedokteran pertama di negara itu yang didukung komputasi kuantum
Indonesia
•
10 Dec 2024

COVID-19 – Peneliti Taiwan kembangkan alat uji cepat
Indonesia
•
17 Sep 2020


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
