Perusahaan China lawan serangan siber dengan bantuan teknologi AI

Foto yang diabadikan pada 25 Februari 2020 ini menunjukkan stan perusahaan keamanan terkemuka China Qi-Anxin Group dalam konferensi keamanan siber RSA di San Francisco, Amerika Serikat. (Xinhua/Wu Xiaoling)
Teknologi AI generatif menurunkan hambatan masuk bagi pelaku ancaman dengan kemampuan pemrograman atau keterampilan teknis yang terbatas dan memperingatkan bahwa peretas telah mulai menggunakan alat AI generatif untuk membuat malware, dark web, dan alat lain untuk melakukan serangan siber.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Pepatah China mengatakan: "balas tindakan seseorang dengan taktik yang sama seperti yang mereka lakukan kepadamu". Di saat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) semakin berperan dalam serangan siber, perusahaan-perusahaan China mulai menggunakan teknologi AI generatif untuk membangun pertahanan terhadap ancaman AI tersebut.Qi-Anxin Group, sebuah perusahaan keamanan siber terkemuka China, merilis model QAX-GPT skala besar pada Maret, dengan harapan dapat membantu dalam pengembangan produk keamanan, pendeteksian ancaman dan area kerentanan, serta analisis kejahatan terkait internet.Model ini memiliki kemampuan investigasi dan penilaian yang mendekati kemampuan pakar keamanan tingkat menengah, sementara efisiensinya dalam hal peringatan dan penilaian lebih dari 60 kali lipat dari upaya manual, kata Qi Xiangdong, ketua Qi-Anxin.Sejak ChatGPT, yang dikembangkan oleh OpenAI, menggemparkan dunia pada akhir 2022, raksasa teknologi dan perusahaan rintisan di seluruh dunia berlomba-lomba dalam bidang AI dengan meluncurkan chatbot AI serupa, serta aplikasi industri berdasarkan model bahasa yang besar.Para ahli percaya bahwa perangkat AI generatif menurunkan hambatan masuk bagi pelaku ancaman dengan kemampuan pemrograman atau keterampilan teknis yang terbatas dan memperingatkan bahwa peretas telah mulai menggunakan alat AI generatif untuk membuat malware, dark web, dan alat lain untuk melakukan serangan siber.Namun, alat AI tersebut merupakan pedang bermata dua bagi keamanan jaringan. Selain itu, juga terdapat kasus alat AI generatif telah dibuat menjadi senjata untuk melawan serangan siber.Kurangnya personel dan sumber daya keamanan jaringan, yang menyebabkan peringatan diabaikan atau salah penanganan, merupakan kerentanan terbesar yang dihadapi keamanan jaringan, menurut survei Qi-Anxin."Guna menghindari dampak pada operasional, 99 persen peringatan yang menunjukkan ancaman keamanan siber memerlukan analisis ahli. Namun, jumlah ahli di perusahaan mana pun terbatas dibandingkan dengan banyaknya peringatan yang muncul. Oleh karena itu, sistem analisis komprehensif yang didukung oleh AI akan sangat meningkatkan pertahanan keamanan," kata Qi.Dibandingkan dengan ahli manusia, QAX-GPT mampu belajar jauh lebih cepat, memperoleh keahliannya dari kumpulan analisis, laporan, dan artikel yang terkait dengan keamanan siber, kata Zhang Zhuo, wakil presiden Qi-Anxin."Berbagai tantangan yang dihadapi keamanan siber meliputi kelangkaan ahli, menurunnya respons manusia terhadap peringatan, dan hambatan efisiensi. Model skala besar ini memungkinkan kita untuk bertransformasi dari reproduksi barang menjadi reproduksi pengalaman ahli," tutur Zhang.China menjadi korban utama dalam peretasan dan serangan siber. Lebih dari 42 juta serangan malware terdeteksi di China pada 2020, menurut sebuah laporan yang dirilis oleh pengawas keamanan siber, National Computer Network Emergency Response Technical Team/Coordination Center of China.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Keragaman bakteri di usus terkait dengan keterampilan kognitif yang lebih baik
Indonesia
•
10 Feb 2022

Spesies katak baru ditemukan di ‘Kota Kungfu’ china
Indonesia
•
16 Nov 2025

Studi: Obat penurun berat badan Wegovy kurangi risiko penyakit jantung hingga 20 persen
Indonesia
•
09 Aug 2023

Ilmuwan prediksikan mitigasi CO2 dari panel fotovoltaik atap di China pada 2030
Indonesia
•
04 May 2023
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
