Ilmuwan China tawarkan metode baru pantau emisi CO2 dari pembangkit listrik

Foto dari udara yang diabadikan pada 8 Juli 2022 ini memperlihatkan Taman Lahan Basah Jiulong yang terletak di wilayah Heyang, Provinsi Shaanxi, China barat laut. (Xinhua/Tao Ming)
Teknologi pengindraan jauh dapat diterapkan untuk memantau emisi karbon, didasarkan pada data terukur yang tidak terlalu terpengaruh oleh faktor-faktor manusia dan kesalahan data statistik, memiliki resolusi waktu yang tinggi, serta memberikan standar terpadu untuk estimasi.
Beijing, China (Xinhua) – Sejumlah ilmuwan China berhasil mengembangkan pendekatan baru untuk memperkirakan emisi karbon dioksida dari pembangkit listrik tenaga batu bara, yang menawarkan pemahaman lebih lanjut tentang pengurangan karbon, demikian menurut Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Metode inversi emisi karbon dioksida ini didasarkan pada Gaussian Plume Model (GPM) yang ditingkatkan dan data dari satelit observatorium karbon yang mengorbit, ungkap Shi Yusheng, seorang peneliti di Institut Penelitian Informasi Dirgantara (Aerospace Information Research Institute/AIR) di bawah CAS, yang sekaligus kepala tim studi tersebut.Inventarisasi emisi yang ada tidak secara akurat mencerminkan emisi CO2 saat ini karena keterlambatan dalam data statistik dan batas akurasi untuk faktor emisi.Kemajuan teknologi pengindraan jauh menyoroti sektor pemantauan emisi karbon. Metode ini didasarkan pada data terukur yang tidak terlalu terpengaruh oleh faktor-faktor manusia dan kesalahan data statistik. Teknologi tersebut juga memiliki resolusi waktu yang tinggi, memberikan standar terpadu untuk estimasi, kata Shi.Hasil validasi metode baru itu menunjukkan tingkat kesepakatan yang tinggi dengan inventarisasi emisi yang ada.Selain itu, metode ini juga membantu memantau dan memperkirakan sumber-sumber titik penting dari emisi karbon, yang merupakan prasyarat bagi industri listrik untuk melakukan upaya pengurangan karbon, menurut Shi.Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan di Journal of Cleaner Production.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Siswa SMA buat bioplastik dari pati biji karet
Indonesia
•
10 Nov 2019

Australia diperkirakan alami musim dingin hangat selama 3 tahun beruntun
Indonesia
•
12 Apr 2025

Spesies tumbuhan terancam punah berhasil ditemukan kembali di China barat daya
Indonesia
•
23 Aug 2022

Teleskop Antariksa Rusia-Jerman buat peta alam semesta
Indonesia
•
29 Oct 2019
Berita Terbaru

Stasiun Mohe, stasiun penerima data satelit paling utara di China
Indonesia
•
30 Jan 2026

Ilmuwan kembangkan kristal baru, capai terobosan dalam ‘output’ laser ultraviolet vakum
Indonesia
•
30 Jan 2026

Tim ilmuwan manfaatkan baterai kuantum untuk jadi pemasok daya super bagi komputer kuantum
Indonesia
•
30 Jan 2026

Feature – Ekspedisi China ungkap fenomena bukaan es di Antarktika
Indonesia
•
30 Jan 2026
