
Teleskop besar China untuk deteksi eksoplanet akan resmi beroperasi pada 2026

Foto dari udara yang diabadikan pada 12 April 2023 ini menunjukkan proyek teleskop astronomis di lokasi pengamatan Lenghu yang sedang dibangun di Provinsi Qinghai, China barat laut. (Xinhua/Chen Jie)
Teleskop Spektroskopi Universitas Jiaotong memiliki apertur 4,4 meter yang dapat memfasilitasi peralihan cepat di antara sumber-sumber target, sehingga memungkinkan pengamatan spektral secara tepat waktu.
Beijing, China (Xinhua) – Sebuah teleskop spektroskopi besar, yang dirancang untuk mendeteksi eksoplanet, dijadwalkan rampung dan mulai beroperasi di China barat laut pada 2026, demikian menurut pihak pengembangnya, Universitas Jiao Tong Shanghai.Teleskop yang diberi nama Teleskop Spektroskopi Universitas Jiaotong (Jiaotong University Spectroscopic Telescope/JUST) itu akan dibangun di Gunung Saishiteng di dekat Lenghu, tempat Provinsi Qinghai mendirikan sebuah lokasi pengamatan astronomi.Dengan apertur 4,4 meter, teleskop ini dapat memfasilitasi peralihan cepat di antara sumber-sumber target, sehingga memungkinkan pengamatan spektral secara tepat waktu. Menurut para ilmuwan, teleskop ini diharapkan dapat mencapai serangkaian terobosan hasil penelitian di beberapa bidang, termasuk astronomi domain waktu dan eksplorasi eksoplanet."Teleskop ini akan tetap menjadi teleskop spektral yang paling dominan di China untuk waktu yang lama," kata pihak universitas dalam sebuah pernyataan.Spektrometer berpresisi tinggi yang dimiliki teleskop ini akan memungkinkan pengamatan spektral multitarget dan berpresisi tinggi secara simultan, menjadikannya yang pertama di jenisnya di dunia. Menurut pihak pengembangnya, teleskop ini diharapkan dapat meningkatkan secara signifikan efisiensi deteksi eksoplanet.Eksoplanet atau planet ekstrasurya adalah planet apa pun yang berada di luar tata surya kita. Sebagian besar planet ini mengorbit bintang lain, namun eksoplanet yang mengambang bebas, disebut 'planet pengembara' (rogue planets), mengorbit pusat galaksi dan tidak terikat pada bintang mana pun.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Otot yang lemah bisa tingkatkan risiko diabetes hingga 3,5 kali lipat
Indonesia
•
16 Jul 2026

Pelampung bertenaga ombak catat data Topan Saola di China selatan
Indonesia
•
07 Sep 2023

Studi fosil temukan bukti burung purba pemakan buah
Indonesia
•
24 Aug 2022

Sistem pemantauan proses daur ulang kurangi sampah plastik di Taiwan
Indonesia
•
05 Oct 2022


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
