
Emisi metana TPA sampah global kini dapat diukur dengan satelit

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' ini menunjukkan ekskavator di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Alue Lim menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Lhokseumawe, Provinsi Aceh, pada 30 Mei 2025. (Xinhua/Fachrul Reza)
Tempat pembuangan akhir merupakan sumber metana antropogenik terbesar ketiga di dunia, yang menyumbang 18 persen emisi yang berkaitan dengan aktivitas manusia.
Beijing, 31 Juli (Xinhua) – Para ilmuwan China mencapai terobosan baru dalam upaya pemantauan emisi metana dari tempat pembuangan akhir (TPA), membuka jalan bagi strategi pengurangan emisi global yang lebih efektif. Studi ini dipublikasikan pada Senin (28/7) di jurnal Nature Climate Change.Tim peneliti dari Institut Penelitian Informasi Dirgantara (Aerospace Information Research Institute/AIR) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) telah memelopori pendekatan inovatif menggunakan pengindraan jauh satelit resolusi tinggi untuk secara akurat mengukur emisi metana TPA, dan juga melakukan penilaian sistematis terhadap TPA di berbagai belahan dunia menggunakan pendekatan ini."Pengindraan jauh satelit memungkinkan kuantifikasi global emisi metana TPA yang seragam dengan resolusi spasiotemporal yang lebih tinggi dibanding metode tradisional," ujar peneliti AIR, Cheng Tianhai. "Pendekatan ini meningkatkan akurasi dan cakupan pemantauan sekaligus menawarkan solusi baru untuk pelacakan emisi metana global."Sebagai sumber metana antropogenik terbesar ketiga, yang menyumbang 18 persen emisi yang berkaitan dengan aktivitas manusia, TPA memerlukan pemantauan yang cermat. Metode yang ada saat ini, yang mengandalkan pengukuran lapangan dan estimasi model, menghadapi keterbatasan dalam hal cakupan, akurasi, dan biaya.Tim peneliti AIR menggunakan resolusi spasial 30 meter dan resolusi spektral 10 nanometer, yang dikombinasikan dengan algoritma matched-filter dan teknik peningkatan massa terintegrasi, untuk mengidentifikasi dan mengukur gumpalan metana, struktur difusi menyerupai bulu yang terbentuk setelah gas dilepaskan dari sumber emisi, dan laju emisinya dari 102 TPA di seluruh dunia. Mereka mendeteksi 367 gumpalan yang valid dan mencapai pengukuran emisi global yang akurat."Ini menandai evaluasi sistematis berskala global pertama terhadap perbedaan emisi metana di bawah praktik-praktik pengelolaan TPA yang beragam," ujar Tong Haoran, penulis pertama makalah tersebut. "Studi ini memberikan dasar ilmiah untuk mengoreksi bias basis data emisi yang ada saat ini," imbuhnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China akan tingkatkan jaringan 5G menjadi 5G-A
Indonesia
•
25 Nov 2024

COVID-19 – Peneliti Taiwan kembangkan alat uji cepat
Indonesia
•
17 Sep 2020

Ilmuwan China usulkan cara baru untuk penargetan tumor
Indonesia
•
18 Dec 2023

Studi: Panas lautan dunia capai rekor tertinggi
Indonesia
•
16 Feb 2023


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
