
Terobosan degradasi protein presisi buka jalan baru pengobatan modern

Ilustrasi. (Girl with red hat on Unsplash)
SupTACs memanfaatkan sistem ubiquitin-proteasome milik sel itu sendiri dengan mendekatkan protein target ke mesin degradasi, sehingga memicu degradasi proteasomal selektif.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim peneliti China berhasil mencapai terobosan signifikan dalam regulasi degradasi protein berpresisi pada organisme hidup, membuka jalan baru bagi strategi terapeutik untuk melawan berbagai penyakit, mulai dari kanker hingga gangguan neurodegeneratif.
Penelitian tersebut, yang dipublikasikan baru-baru ini dalam jurnal Cell, menggambarkan sebuah strategi baru yang memungkinkan degradasi dan eliminasi selektif terhadap ‘protein-protein penyebab penyakit’ tertentu dengan presisi spasial dan temporal secara in vivo.
Protein merupakan regulator dan komponen fungsional penting dalam mesin biologis tubuh. Ekspresi abnormal atau disfungsi protein mendasari banyak penyakit manusia. Terapi molekul kecil tradisional umumnya menghambat fungsi protein dengan menduduki kantong aktif proteinnya; namun, banyak protein yang terkait penyakit tidak memiliki kantong yang dapat ditarget oleh obat, sehingga protein-protein tersebut menjadi resistan terhadap pendekatan terapeutik tradisional.
Untuk mengatasi keterbatasan ini, para peneliti dari Institut Kimia Akademi Ilmu Pengetahuan China (Institute of Chemistry, Chinese Academy of Sciences/ICCAS) mengembangkan sebuah alat inovatif bernama supramolecular targeting chimeras (SupTACs). Strategi ini memanfaatkan sistem ubiquitin-proteasome milik sel itu sendiri dengan mendekatkan protein target ke mesin degradasi, sehingga memicu degradasi proteasomal selektif.
"Strategi degradasi protein tertarget yang sudah ada sering kali tidak memiliki kendali berpresisi terkait kapan dan di mana strategi itu bekerja, sehingga membatasi efektivitasnya secara in vivo dan meningkatkan risiko efek di luar target," jelas Wang Ming, seorang profesor di ICCAS yang juga penulis utama dalam penelitian ini.
Secara khusus, SupTACs menunjukkan degradasi protein yang stabil dan efisien pada berbagai model hewan, termasuk primata nonmanusia. Penelitian ini menandai sebuah langkah penting menuju translasi klinis teknologi degradasi protein tertarget, tambah Wang.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

AS kembali luncurkan misi astronaut komersial ke stasiun luar angkasa
Indonesia
•
19 Jan 2024

Sistem restorasi jaringan listrik otonomos berteknologi AI pertama China sukses diuji coba
Indonesia
•
05 Mar 2025

India akan hadapi kondisi cuaca panas pada April-Juni 2024
Indonesia
•
04 Apr 2024

Ilmuwan China dan Korsel ungkap misteri asal-usul sapi domestik Asia Timur
Indonesia
•
24 Dec 2025


Berita Terbaru

Peneliti China kembangkan baterai lithium-sulfur baru untuk bantu ‘drone’ terbang lebih jauh
Indonesia
•
12 May 2026

Aplikasi AI Libra dukung aktivitas korporasi dan bisnis
Indonesia
•
12 May 2026

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026
