Naiknya tingkat pengangguran diperkirakan menambah ketidakpastian dalam pemilu paruh waktu AS

Tingkat pengangguran di AS

Foto yang diabadikan pada 3 September 2021 menunjukkan sebuah pengumuman lowongan pekerjaan di depan sebuah restoran di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Liu Jie)

Tingkat pengangguran di AS melonjak menjadi 4,6 persen pada November 2025, angka tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Meningkatnya level pengangguran di Amerika Serikat (AS) berpotensi menimbulkan ketidakpastian yang signifikan terhadap pemilihan umum (pemilu) paruh waktu (midterm) tahun depan, demikian menurut sejumlah pakar, media, dan politisi.

Tingkat pengangguran melonjak menjadi 4,6 persen pada November 2025, angka tertinggi dalam empat tahun terakhir, menurut data yang dirilis pada Selasa (16/12) oleh Biro Statistik Ketenagakerjaan (Bureau of Labor Statistics) AS.

Angka ini menunjukkan bahwa Presiden AS Donald Trump "mengalihkan perhatiannya dari tujuan terpentingnya, yaitu memperbaiki ekonomi," kata Darrell West, selaku peneliti senior (senior fellow) di Brookings Institution, kepada Xinhua.

"Pengangguran meningkat dan inflasi tetap tinggi. Ini merupakan kombinasi buruk bagi seseorang yang berkampanye tentang isu-isu tersebut dan berjanji akan fokus pada masalah itu sejak hari pertama," kata West.

"Dia banyak menghabiskan waktu untuk kebijakan luar negeri dan tidak cukup memberi perhatian pada urusan dalam negeri," ujar West, merujuk pada peningkatan kekuatan militer di lepas pantai Venezuela, Amerika Selatan.

"Ini akan menjadi masalah besar bagi Partai Republik dalam pemilu paruh waktu," kata West, merujuk pada pemilihan Kongres yang kurang dari setahun lagi.

Faktanya, jajak pendapat CNN yang dirilis pada awal November lalu menunjukkan bahwa 72 persen warga AS menilai ekonomi AS tidak berjalan baik, dan 61 persen percaya bahwa kebijakan Trump menyebabkan ekonomi menurun.

Hal ini terjadi setelah kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilu di luar tahun pemilihan presiden (off-year) bulan lalu di New York City serta negara bagian Virginia dan New Jersey. Para analis, media, dan politisi menyatakan keyakinan bahwa pemilu tersebut membuktikan ekonomi menjadi prioritas utama bagi para pemilih.

Christopher Galdieri, seorang profesor ilmu politik di Saint Anselm College di Negara Bagian New Hampshire di AS timur laut, mengatakan kepada Xinhua: "Tingkat pengangguran yang lebih tinggi ditambah dengan harga-harga yang naik perlahan merupakan kombinasi politik yang berisiko. Tanpa membuat prediksi, ini bisa menjadi situasi yang berakibat buruk bagi Partai Republik dalam pemilu paruh waktu."

Mantan ketua DPR AS sekaligus ikon (Grand Old Party/GOP), julukan Partai Republik, Newt Gingrich, dalam wawancara awal Desember mengatakan bahwa GOP "benar-benar menghadapi masalah" jika ekonomi tidak pulih.

"Menurut saya ini cukup jelas: Jika ekonomi pulih, seperti yang kita perkirakan, Partai Republik akan mempertahankan kendali atas DPR dan memperluas keunggulan mereka di Senat," kata Gingrich dalam acara "Kudlow" di Fox Business Network.

Pada saat yang sama, partai yang menguasai Gedung Putih itu secara historis cenderung tampil buruk dalam pemilu paruh waktu, yang berarti Trump mungkin menghadapi jalan yang sulit ke depannya, meski angka pengangguran kembali membaik.

Beberapa ekonom memperkirakan tingkat pengangguran akan terus naik.

"Prediksi saya sekarang adalah pengangguran akan terus meningkat menuju 5 persen," kata Gary Clyde Hufbauer, senior fellow nonresiden di Peterson Institute for International Economics, kepada Xinhua.

"Tarif memang memberi pengaruh moderat dengan menaikkan harga barang konsumen. Efek tarif yang lebih besar akan terasa pada 2026," ujar Hufbauer, merujuk pada tarif yang diberlakukan Trump terhadap sebagian besar mitra dagang AS.

Dean Baker, salah satu pendiri Center for Economic and Policy Research, mengatakan kepada Xinhua bahwa penyebab utama pengangguran "adalah tarif Trump bersama dengan pemangkasan anggaran di tingkat federal."

Tarif juga "menciptakan ketidakpastian yang sangat besar," imbuh Baker.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait