Departemen Kehakiman AS luncurkan penyelidikan dewan juri agung atas klaim intelijen Rusia era Obama

Foto yang diabadikan pada 11 Agustus 2022 ini menunjukkan gedung Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) di Washington DC, AS. (Xinhua/Liu Jie)
Trump menuduh Obama melakukan pengkhianatan, dengan menuding bahwa mantan presiden dari Partai Demokrat itu memimpin upaya terkoordinasi untuk menyabotase kampanyenya.
Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Jaksa Agung Amerika Serikat (AS) Pam Bondi telah memerintahkan jaksa federal untuk memulai penyelidikan dewan juri agung terkait tuduhan bahwa sejumlah pejabat dari pemerintahan mantan presiden Barack Obama merekayasa intelijen mengenai campur tangan Rusia dalam pemilu 2016, demikian menurut seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters pada Senin (4/8).Penyelidikan ini dilakukan setelah adanya rekomendasi dari Direktur Intelijen Nasional AS Tulsi Gabbard, yang bulan lalu membuka dokumen yang menurutnya mengungkap adanya "konspirasi pengkhianatan" untuk secara keliru mengaitkan Donald Trump, yang saat itu masih kandidat presiden, dengan Moskow. Gabbard mengancam akan menuntut sejumlah pejabat era Obama.Departemen Kehakiman AS baru-baru ini membentuk "satuan tugas khusus" untuk mengevaluasi tuduhan Gabbard mengenai apa yang dia gambarkan sebagai "persenjataan" komunitas intelijen.Fox News pertama kali melaporkan bahwa Bondi menunjuk seorang jaksa federal yang tidak disebutkan namanya untuk memulai proses hukum, dan jaksa federal tersebut diperkirakan akan menyampaikan bukti dari departemen kepada dewan juri agung, yang nantinya dapat mempertimbangkan pengajuan dakwaan. Juru bicara Departemen Kehakiman AS menolak memberikan komentar.Trump, yang mengalahkan Hillary Clinton dalam pemilu 2016, telah menuduh Obama melakukan pengkhianatan, dengan menuding, tanpa bukti, bahwa mantan presiden dari Partai Demokrat itu memimpin upaya terkoordinasi untuk menyabotase kampanyenya.Sebuah evaluasi intelijen pada 2017 menyimpulkan bahwa Rusia berusaha memengaruhi pemilu 2016 untuk menguntungkan Trump, tetapi tidak menemukan bukti bahwa suara telah diubah.Juru bicara Obama menepis tuduhan tersebut sebagai klaim yang "aneh" dan "konyol."Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Feature – Krisis minyak akhiri era keemasan Barat saat minyak lebih murah daripada air
Indonesia
•
30 Jul 2024

Menlu Singapura desak diplomasi preventif di Sidang Majelis Umum PBB
Indonesia
•
30 Sep 2024

Israel hancurkan 1.000 masjid, 19 kuburan, 3 gereja di Gaza
Indonesia
•
05 Jan 2025

Jumlah jamaah umroh tahun 2021 meningkat 11,61 persen
Indonesia
•
02 Apr 2022
Berita Terbaru

Nilai mata uang Iran anjlok ke level terendah dalam sejarah di tengah tekanan ekonomi
Indonesia
•
29 Jan 2026

PBB sebut situasi kemanusiaan di Gaza masih sangat kritis meski bantuan meningkat
Indonesia
•
28 Jan 2026

Otoritas Palestina siap operasikan perlintasan Rafah sesuai perjanjian 2005
Indonesia
•
28 Jan 2026

Dewan Keamanan PBB putuskan akhiri Misi Hodeidah
Indonesia
•
28 Jan 2026
