
Air di Bumi semakin berkurang, cadangan air tanah kritis

Sejumlah perahu terlihat di Sungai Yangon di Yangon, Myanmar, pada 28 September 2025. (Xinhua/Myo Kyaw Soe)
Penurunan cadangan air tanah yang kronis, alokasi air yang berlebihan, degradasi lahan, deforestasi, dan polusi, yang seluruhnya diperparah oleh perubahan iklim, mendorong banyak wilayah melampaui batas hidrologisnya.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis pada Selasa (20/1) memperingatkan bahwa dunia sedang memasuki era "kebangkrutan air global."
Laporan yang diterbitkan oleh Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan Universitas PBB (United Nations University Institute for Water, Environment and Health) itu menguraikan penurunan cadangan air tanah yang kronis, alokasi air yang berlebihan, degradasi lahan, deforestasi, dan polusi, yang seluruhnya diperparah oleh perubahan iklim, mendorong banyak wilayah melampaui batas hidrologisnya.
Laporan itu menyatakan bahwa istilah-istilah yang umum digunakan, seperti "stres air" dan "krisis air," tidak lagi mencerminkan kenyataan di banyak area, mengingat sistem air telah memasuki tahap pascakrisis yang ditandai oleh kerugian yang tak dapat dipulihkan dan ketidakmampuan untuk pulih ke tingkat historis.
"Laporan ini mengungkapkan kebenaran yang tidak mengenakkan: Banyak wilayah hidup melebihi kapasitas hidrologis mereka, dan banyak sistem air penting telah mengalami kebangkrutan," tutur Kaveh Madani, penulis utama laporan tersebut.
Meski tidak semua cekungan sungai dan negara telah mencapai tahap ini, dia menuturkan cukup banyak sistem utama di seluruh dunia telah melewati ambang batas tersebut sehingga mengubah lanskap risiko global.
Menurut laporan itu, perairan permukaan dan lahan basah menyusut dengan cepat. Lebih dari separuh danau besar di dunia telah mengalami penurunan volume air sejak awal 1990-an, yang berdampak kepada sekitar seperempat populasi global.
Berkurangnya cadangan air tanah dan penurunan permukaan tanah menunjukkan bahwa cadangan tersembunyi sedang terkuras. Sekitar 70 persen akuifer utama di dunia menunjukkan penurunan jangka panjang. Penurunan permukaan tanah yang terkait dengan pemompaan air tanah berlebihan kini berdampak kepada hampir dua miliar orang, menurut laporan tersebut.
Degradasi kualitas air semakin mengurangi ketersediaan air yang dapat dimanfaatkan dan mempercepat kebangkrutan air, imbuh laporan itu.
Laporan tersebut menyerukan kepada pemerintah agar beralih dari respons krisis jangka pendek menuju "manajemen kebangkrutan," dan mendorong langkah-langkah untuk mengurangi dan mengalokasikan ulang permintaan air, menekan polusi dan eksploitasi ilegal, serta menetapkan kembali agenda air global menjelang penyelenggaraan Konferensi Air PBB 2026.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Aplikasi Telegram luncurkan panggilan video dengan enkripsi
Indonesia
•
16 Aug 2020

iPhone terancam tak berfungsi jika tak ganti desain ‘charger’ sesuai UU Uni Eropa
Indonesia
•
08 Jun 2022

PALLAS-1 jadi roket baru China untuk satelit komersial, punya daya dorong hingga 350 ton
Indonesia
•
02 Sep 2026

Arkeolog temukan 85 makam kuno di Mesir selatan
Indonesia
•
05 May 2022


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
