Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan

Foto dokumentasi tanpa tanggal ini menunjukkan sebuah artefak perunggu yang digali dari Reruntuhan Changchun, wilayah Fuping, Kota Weinan, Provinsi Shaanxi, China barat laut. (Xinhua/Akademi Arkeologi Shaanxi)
Manusia purba di Asia Timur telah mampu menciptakan alat bergagang yang kompleks dari batu sejak 70.000 tahun lalu.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Penemuan arkeologi signifikan di sebuah situs kuno yang berada di Provinsi Henan, China tengah, mengubah pandangan tentang inovasi prasejarah, setelah tim peneliti internasional berhasil mengungkap bukti nyata bahwa manusia purba di Asia Timur telah mampu menciptakan alat bergagang yang kompleks dari batu sejak 70.000 tahun lalu.
Penelitian tersebut, yang diterbitkan pada Rabu (28/1) dalam jurnal Nature Communications, berfokus pada 22 alat batu spesifik yang diekskavasi dari situs Xigou, yang terletak di Pegunungan Qinling. Analisis teknologis dan mikroskopis yang mendetail terhadap jejak pakai (use-wear) mengonfirmasi bahwa artefak-artefak ini telah melalui proses pemasangan gagang (hafting), atau dimodifikasi secara sengaja di bagian pangkal untuk dipasangkan pada gagang kayu atau tulang, sehingga membentuk alat gabungan seperti pisau.
"Hal ini merepresentasikan bukti tertua di Asia Timur mengenai teknologi hafting yang terkonfirmasi melalui tipologi teknis dan traseologi," kata Yang Shixia, penulis koresponden studi dan peneliti di Institut Paleontologi Vertebrata dan Paleoantropologi (Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology/IVPP) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).
"Temuan ini secara signifikan memundurkan catatan waktu mengenai kemunculan teknologi ini di wilayah tersebut," ujar Yang.
Memiliki penanggalan yang akurat antara 160.000 hingga 72.000 tahun yang lalu, situs Xigou berfungsi sebagai bengkel kerja dan menghasilkan lebih dari 2.600 artefak batu, dengan sebagian besarnya terbuat dari kuarsa dan kuarsit, material yang sebelumnya dianggap tidak cocok untuk pembuatan alat yang halus.
Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh IVPP menemukan bahwa penduduk zaman purba di situs tersebut telah menguasai teknologi inti yang sistematis untuk memproduksi alat-alat serpih. Salah satu metodenya melibatkan pemisahan serpihan kecil dari serpihan yang lebih besar, sementara metode lainnya menggunakan teknik pemangkasan serpihan dari inti batu secara efisien dan sentripetal. Perangkat alat yang ditemukan mencakup pengikis, pengebor atau gurdi, dan peruncing.
Analisis mengungkapkan bahwa bagian-bagian yang dipasang pada alat bergagang menunjukkan modifikasi bagian pangkal yang jelas untuk pemasangan, bahkan beberapa di antaranya masih menyimpan bukti langsung pernah terpasang pada gagang. Sama halnya seperti memasang bilah ke gagang pisau, manusia purba ini menggunakan dua metode penyambungan, yaitu penyisipan (insertion) dan pemasangan samping (lateral hafting), untuk meningkatkan efektivitas alat batu mereka.
Temuan ini secara langsung mematahkan pandangan akademis lama yang menganggap Asia Timur ‘konservatif secara teknologi’ selama periode Pleistosen Tengah akhir hingga awal Pleistosen Akhir (sekitar 300.000 hingga 50.000 tahun yang lalu). Pada masa tersebut, perilaku kompleks seperti teknologi hafting, produksi alat tulang formal, dan penggunaan hiasan pribadi serta pigmen mulai muncul baik di Afrika maupun Eropa.
Tim peneliti tersebut menerapkan berbagai teknik penanggalan luminesensi, metode yang mengukur kapan mineral yang terkubur terakhir kali terpapar sinar matahari, pada sedimen di situs tersebut untuk menetapkan kerangka kerja kronologis yang kuat.
Penemuan di Xigou bukanlah kasus terpisah. Temuan ini melengkapi serangkaian penemuan terbaru di seluruh China, seperti bukti teknologi inti yang terencana (prepared core technology), pembentukan alat dari tulang, dan penggunaan pigmen di situs-situs lain, yang secara kolektif menunjukkan populasi manusia purba di Asia Timur sebagai inovator yang adaptif.
Menghadapi kondisi iklim dengan fluktuasi yang intens, mereka mengembangkan repertoar teknologi yang serbaguna dan fleksibel, papar Yang.
"Penemuan ini menulis ulang narasi tradisional mengenai perkembangan perilaku dan adaptasi manusia purba di Asia Timur," sebutnya. "Hal tersebut menegaskan bahwa kawasan ini memainkan peran yang krusial dan dinamis dalam kisah evolusi manusia secara global."
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

China ungkap enam temuan arkeologi paling luar biasa pada 2022
Indonesia
•
23 Feb 2023

Terobosan dalam teknologi katalis China mungkinkan produksi hidrogen yang lebih tahan lama
Indonesia
•
20 Feb 2025

Delta Sungai Yangtze catat lebih dari 1 juta unggas air musim dingin
Indonesia
•
02 Aug 2023

Teknologi pembelajaran TouchClass dari Korea diluncurkan di Indonesia
Indonesia
•
05 Oct 2021
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026

Astronom di Australia identifikasi kandidat planet mirip Bumi yang layak huni
Indonesia
•
28 Jan 2026
