
Studi: Melindungi ikan jadi kunci untuk cegah ledakan populasi bintang laut di Great Barrier Reef

Foto dari udara yang diambil pada 2 Juni 2021 ini menunjukkan Great Barrier Reef di Queensland, Australia. (Xinhua/Hu Jingchen)
Bintang laut mahkota duri (crown-of-thorns starfish/CoTS) merupakan salah satu ancaman terbesar bagi terumbu karang di Great Barrier Reef, dengan sejumlah ledakan populasi CoTS terjadi selama empat dekade terakhir.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Perlindungan terhadap ikan predator di Great Barrier Reef Australia telah membantu mencegah lebih banyak ledakan populasi bintang laut mahkota duri (crown-of-thorns starfish/CoTS) pemakan karang, menurut penelitian baru yang diterbitkan pada Senin (1/12).Studi tersebut menyajikan bukti berbasis pemodelan baru bahwa strategi zonasi dan pengelolaan perikanan yang diadopsi pada 2004 kemungkinan besar telah memainkan peran penting dalam pemulihan populasi ikan, mengurangi ledakan populasi CoTS, dan mengurangi hilangnya karang. Hal tersebut diungkapkan dalam pernyataan pers dari Organisasi Penelitian Ilmiah dan Industri Persemakmuran (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization/CSIRO), badan ilmu pengetahuan nasional Australia.Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Ecology and Evolution itu dilakukan oleh CSIRO dan Institut Ilmu Kelautan Australia (Australian Institute of Marine Science/AIMS).CoTS merupakan salah satu ancaman terbesar bagi terumbu karang di Great Barrier Reef, dengan sejumlah ledakan populasi CoTS terjadi selama empat dekade terakhir, kata Scott Condie, peneliti CSIRO dan penulis utama studi tersebut."Ikan tertentu, seperti ikan lencam (emperor), memakan bintang laut mahkota duri," tutur Condie. Dia menambahkan bahwa langkah-langkah perlindungan, seperti memperluas zona larangan penangkapan ikan menjadi 33 persen, dan memperketat regulasi penangkapan ikan, diterapkan pada 2004 untuk melindungi ikan predator itu.Model tersebut menunjukkan bahwa inisiatif-inisiatif ini kemungkinan besar "mencegah titik balik yang bersifat katastropik" yang akan membuat Great Barrier Reef memiliki jumlah ikan besar yang lebih sedikit, yang menyebabkan ledakan populasi CoTS secara terus-menerus dan penurunan signifikan dalam jumlah karang, katanya.Pemantauan jangka panjang menunjukkan bahwa frekuensi ledakan populasi di sepanjang Great Barrier Reef secara konsisten lebih rendah di zona-zona yang dilindungi, sementara sejumlah model memprediksi peningkatan empat kali lipat dalam jumlah terumbu karang yang terdampak per 2050 tanpa strategi perlindungan ikan tersebut, menurut penelitian itu."Tanpa intervensi selama dua dekade terakhir, model tersebut menunjukkan bahwa populasi ikan grouper dan ikan lencam di Great Barrier Reef juga akan terus menurun akibat meningkatnya tekanan penangkapan ikan," papar peneliti AIMS Daniela Ceccarelli."Pemodelan ini merupakan langkah penting untuk memahami potensi pengelolaan CoTS dalam melindungi Great Barrier Reef di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim," imbuh Ceccarelli.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Dukung pengembangan AI di Malaysia, Microsoft umumkan investasi senilai 2,2 miliar dolar AS
Indonesia
•
05 May 2024

Terapi suara non-invasif tingkatkan harapan bagi pengobatan Alzheimer
Indonesia
•
08 Jan 2026

90 persen lebih air minum di stasiun luar angkasa China hasil daur ulang
Indonesia
•
24 Aug 2022

COVID-19 – Peneliti Taiwan kembangkan alat uji cepat
Indonesia
•
17 Sep 2020


Berita Terbaru

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026
