
Studi: AI dan pembelajaran mesin dapat dengan sukses diagnosis PCOS

Seorang petugas memeriksa hasil pengujian sel darah yang diproduksi oleh sebuah model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di laboratorium Rumah Sakit Xinqiao di bawah Universitas Kedokteran Angkatan Darat di Chongqing, China barat daya, pada 14 Februari 2023. (Xinhua/Rumah Sakit Xinqiao)
Diagnosis sindrom polikistik ovarium (polycystic ovary syndrome/PCOS), yang merupakan kelainan hormon paling umum di kalangan wanita, biasanya antara usia 15 hingga 45 tahun, kini dapat dilakukan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pembelajaran mesin (machine learning/ML).
Los Angeles, AS (Xinhua) – Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pembelajaran mesin (machine learning/ML) dapat secara efektif mendeteksi dan mendiagnosis sindrom polikistik ovarium (polycystic ovary syndrome/PCOS), yang merupakan kelainan hormon paling umum di kalangan wanita, biasanya antara usia 15 hingga 45 tahun, menurut studi terbaru yang dilakukan Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (AS).PCOS adalah penyakit endokrinopati yang paling umum dialami wanita pada usia reproduktif dan masih sulit terdeteksi sehingga memicu morbiditas yang signifikan, menurut studi yang diterbitkan pada Senin (18/9) itu.Para peneliti melakukan tinjauan literatur sistematis untuk mengidentifikasi kegunaan AI dan ML dalam diagnosis atau klasifikasi PCOS. Mereka menemukan bahwa AI dan ML dapat menunjukkan kinerja diagnostik dan klasifikasi yang tinggi dalam mendeteksi PCOS, sehingga membuka jalan untuk melakukan diagnosis dini terkait kelainan ini."PCOS sulit untuk didiagnosis karena bertumpang tindih dengan kondisi-kondisi lainnya," kata Skand Shekhar, penulis senior dalam studi tersebut sekaligus asisten dokter peneliti dan ahli endokrinologi di Institut Nasional Ilmu Kesehatan Lingkungan AS."Data ini mencerminkan potensi yang belum dimanfaatkan dalam penggabungan AI/ML dalam riwayat kesehatan elektronik dan latar klinis lainnya untuk meningkatkan kapabilitas diagnosis dan perawatan untuk wanita pengidap PCOS," kata Shekhar.Para penulis studi itu menyarankan untuk mengintegrasikan studi berbasis populasi besar dengan kumpulan data kesehatan elektronik serta menganalisis tes laboratorium yang umum untuk mengidentifikasi biomarker diagnostik sensitif yang dapat memfasilitasi diagnosis sindrom polikistik ovarium.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Penelitian: Ampas bubuk kopi baik tingkatkan pertumbuhan sayur
Indonesia
•
22 Mar 2022

Mesir umumkan penemuan makam kerajaan pertama dalam lebih dari 100 tahun
Indonesia
•
21 Feb 2025

China dan Eropa jalin kerja sama dalam pengujian satelit-roket
Indonesia
•
17 Feb 2023

Mamuju di Sulawesi Barat terpapar radiasi alam 9 kali lebih tinggi dari rata-rata dunia, masuk sorotan PBB
Indonesia
•
01 Mar 2026


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
