Studi di Australia temukan ‘sakelar pengaman' kanker yang blokir serangan imun

Ilustrasi. (CDC on Unsplash)
Gen TAK1 bertindak seperti sakelar pengaman yang melindungi sel kanker dari sinyal kuat yang dihasilkan oleh sel T CD8+, sel pembunuh utama dari sistem kekebalan tubuh manusia.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan di Australia berhasil mengidentifikasi ‘sakelar pengaman’ molekuler yang membantu sel kanker menghindari serangan sel imun, mengungkap mekanisme tumor dalam melawan pengobatan imunoterapi.Para peneliti menemukan bahwa gen TAK1 bertindak seperti sakelar pengaman yang melindungi sel kanker dari sinyal kuat yang dihasilkan oleh sel T CD8+, sel pembunuh utama dari sistem kekebalan tubuh manusia, demikian menurut pernyataan pers dari Institut Penelitian Kanker Olivia Newton-John (Olivia Newton-John Cancer Research Institute/ONJCRI) Australia pada Sabtu (20/12).TAK1 diidentifikasi melalui skrining genetik skala besar untuk mencari gen yang membantu sel kanker bertahan dari serangan sel T CD8+, ungkap ONJCRI, yang memimpin penelitian ini melalui kerja sama dengan Walter and Eliza Hall Institute of Medical Research Australia."Selama ini diketahui bahwa TAK1 meningkatkan kelangsungan hidup sel kanker dan menghambat kematian sel, namun kita tidak tahu bahwa sel kanker menggunakan taktik ini untuk menghindar 'dibunuh' oleh sistem imun," kata Anne Huber, peneliti pascadoktoral di ONJCRI.Menurut penelitian yang telah diterbitkan di jurnal Cell Reports tersebut, ketika TAK1 dalam model laboratorium diblokir menggunakan penyuntingan gen CRISPR, pertumbuhan tumor menjadi menurun, yang menunjukkan bahwa sistem imun atau kekebalan tubuh mampu mengendalikan sel kanker dengan lebih baik."Tanpa TAK1, sel kanker kehilangan protein penting cFLIP, yang biasanya mencegah kematian sel, dan sel-sel kanker tersebut menjadi jauh lebih sensitif terhadap serangan imun," papar Huber, menambahkan bahwa menonaktifkan TAK1 membuat sel kanker jauh lebih mudah dihancurkan oleh sistem imun, sehingga memberikan harapan untuk pilihan pengobatan yang lebih ampuh.Tirta Djajawi, seorang peneliti pascadoktoral di ONJCRI, mengatakan bahwa memblokir TAK1 dapat membuat imunoterapi yang ada saat ini lebih efektif "dengan menghilangkan kemampuan perlindungan diri pada tumor.""TAK1 seperti peredam kejut yang membuat sel kanker dapat bertahan dari serangan terkeras sistem kekebalan tubuh. Jika TAK1 dihilangkan, sel tumor akan runtuh di bawah kekuatan serangan kekebalan tubuh," kata Djajawi.Imunoterapi kanker dapat bekerja dengan sangat baik, tetapi dalam beberapa kasus kurang efektif karena proses bertahan hidup bawaan tumor yang membantunya melawan serangan sistem kekebalan tubuh.Penelitian ini dilakukan pada berbagai jenis kanker, terutama melanoma, yang sering diobati dengan imunoterapi.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Peneliti AS kembangkan sistem AI baru untuk bantu orang yang kesulitan bicara
Indonesia
•
03 May 2023

Twitter alami masalah terkait tautan dan gambar
Indonesia
•
07 Mar 2023

Sisa-sisa alkohol dan sutra berusia 5.000 tahun ditemukan di China bagian tengah
Indonesia
•
01 Oct 2021

12 patung penjaga pintu ditemukan di Angkor, Kamboja
Indonesia
•
30 Oct 2024
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
