
Tim ilmuwan China pecahkan misteri es kristal kubik

Sejumlah staf menyingkirkan es dan salju di sepanjang jalur kereta di Stasiun Kereta Tongbei di Beian, Provinsi Heilongjiang, China timur laut, pada 15 Maret 2023. (Xinhua/Wang Song)
Es kristal kubik yang diyakini sebagai penyebab dari halo tipe tertentu di sekeliling Matahari atau Bulan yang disebut sebagai halo Scheiner, telah lama menjadi kontroversi karena mendeteksinya dalam fase murni sulit dilakukan di dalam eksperimen.
Beijing, China (Xinhua) – Kepingan salju biasanya memiliki struktur kristal heksagonal, tetapi dalam kondisi tertentu, kepingan salju dapat terlihat seperti intan.Struktur heksagonal memungkinkan molekul air - masing-masing dengan satu oksigen dan dua atom hidrogen - untuk membentuk bersama dengan cara yang paling efisien.Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan pada Rabu (29/3) di jurnal Nature, tim ilmuwan China menunjukkan pembentukan kristal es secara real time pada resolusi molekuler. Studi ini memecahkan misteri tentang bagaimana air membeku hingga menjadi struktur kristal kubus berpusat muka seperti intan.Es kristal berbentuk kubus ini diyakini sebagai penyebab dari halo tipe tertentu di sekeliling Matahari atau Bulan yang disebut sebagai halo Scheiner. Namun, keberadaan es kristal kubik telah lama menjadi kontroversi karena mendeteksinya dalam fase murni sulit dilakukan di dalam eksperimen.Tim peneliti, yang dipimpin oleh peneliti dari Institut Fisika di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), menggunakan pencitraan mikroskop elektron transmisi kriogenik in-situ dan deposisi uap air pada grafena untuk meneliti pembentukan kristal es dari uap pada suhu minus 170 derajat Celsius.Mereka menemukan sebagian besar es yang dihasilkan adalah es kristal kubik fase murni. Ini menunjukkan bahwa nukleasi es kristal kubik lebih cenderung terjadi pada substrat bersuhu rendah. Proporsi es dengan struktur kisi heksagonal meningkat seiring waktu.Faktor penentu yang memengaruhi pembentukannya adalah antarmuka yang heterogen, yang mudah ditemukan saat hujan salju, di mana molekul-molekul air tumbuh di permukaan partikel-partikel debu yang sangat kecil, urai penelitian tersebut.Pencitraan ruang nyata dan langsung dalam penelitian ini menyudahi kontroversi mengenai es kristal kubik, serta memperdalam pemahaman kita tentang perilaku pembentukan es dalam kondisi berbeda, yang bisa memiliki penerapan luas dalam ilmu material, geologi, dan ilmu iklim, kata para peneliti.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Spesies anggrek yang sempat hilang seabad ditemukan kembali
Indonesia
•
23 Jul 2025

Stasiun milik China di Antarktika luncurkan sistem energi bersih berskala besar
Indonesia
•
11 Apr 2025

Menteri China sebut negaranya akan miliki 2,9 juta BTS 5G hingga akhir 2023
Indonesia
•
07 Mar 2023

PBB konfirmasi 48,8 derajat Celsius sebagai suhu tertinggi yang pernah tercatat di Eropa
Indonesia
•
31 Jan 2024


Berita Terbaru

Laut makin panas, ancaman terhadap manusia meluas hingga kesehatan mental
Indonesia
•
12 Aug 2026

Beton ramah lingkungan mengembang dalam 14 detik, biaya material bisa turun 94 persen
Indonesia
•
11 Aug 2026

Feature – Dari Laut Jawa ke Laut Banda: Jejak air tawar ungkap rahasia laut Indonesia
Indonesia
•
09 Aug 2026

Feature – Di tengah riuh IGD, AI bantu tentukan pasien yang harus didahulukan
Indonesia
•
08 Aug 2026
