
Peneliti ungkap distribusi spasial dan faktor pendorong risiko kepunahan pada angiosperma

Foto yang diabadikan pada 25 Juli 2024 ini menunjukkan bunga-bunga yang bermekaran di Gunung Nanhua di wilayah Haiyuan yang terletak di Zhongwei, Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia, China barat laut. (Xinhua/Feng Kaihua)
Faktor iklim menjadi pendorong utama risiko kepunahan angiosperma di China bagian selatan, sementara faktor struktural vegetasi mendominasi di bagian barat dan faktor evolusi mendominasi di bagian utara.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti China baru-baru ini membuat kemajuan dalam memahami distribusi spasial dan faktor-faktor pendorong risiko kepunahan pada angiosperma, sebuah kelompok tumbuhan yang beragam di Bumi, menurut Institut Botani yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Angiosperma mencakup berbagai macam tumbuhan, mulai dari rerumputan dan semak belukar hingga pohon-pohon besar. Kelompok ini dicirikan oleh biji yang tertutup di dalam buah, proses pembuahan ganda yang unik, dan struktur bunga yang beragam.Para peneliti baru-baru ini menemukan bahwa risiko kepunahan angiosperma di China sangat terkelompok secara spasial. China bagian selatan memiliki status terancam punah yang lebih parah dibandingkan dengan bagian utara.Mereka juga menemukan bahwa struktur vegetasi menjadi faktor utama yang memengaruhi kepunahan angiosperma, diikuti oleh iklim dan evolusi.Keanekaragaman hayati merupakan fondasi yang krusial bagi kelangsungan hidup dan perkembangan manusia, dan hilangnya keanekaragaman hayati menimbulkan ancaman serius terhadap perkembangan berkelanjutan masyarakat manusia. Untuk memahami mekanisme hilangnya keanekaragaman hayati dan pelestariannya, diperlukan sebuah investigasi terhadap pola distribusi dan faktor-faktor pendorong risiko kepunahan spesies."Topografi yang kompleks dan iklim yang beragam di China menjadikannya salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia," kata Zhao Lina, seorang insinyur di institut tersebut."Melakukan penelitian komprehensif berskala besar tentang risiko kepunahan spesies di China sangat penting untuk memprediksi tren perubahan keanekaragaman hayati secara akurat dan merumuskan strategi konservasi yang terarah secara ilmiah," ungkapnya.Para peneliti telah menyusun pohon kehidupan (tree of life) untuk 27.185 spesies angiosperma di China dengan memanfaatkan 2,02 juta data distribusi tingkat wilayah, yang bertujuan untuk mempelajari karakteristik distribusi spasial dan perbedaan regional dalam hal risiko kepunahan.Mereka juga mengintegrasikan lima aspek, termasuk evolusi, iklim, struktur vegetasi, topografi, dan dampak manusia, untuk menyusun tiga set yang terdiri dari 12 model yang disesuaikan dengan skala spasial berbeda, sehingga memungkinkan mereka untuk menganalisis faktor-faktor pendorong risiko kepunahan secara komprehensif.Para peneliti menemukan bahwa pada skala regional, faktor iklim menjadi pendorong utama risiko kepunahan angiosperma di China bagian selatan, sementara faktor struktural vegetasi mendominasi di bagian barat dan faktor evolusi mendominasi di bagian utara.Penelitian ini menekankan kompleksitas dan urgensi dari konservasi keanekaragaman hayati, memiliki nilai ilmiah yang signifikan untuk memprediksi tren hilangnya keanekaragaman hayati dan merumuskan langkah-langkah konservasi yang terarah, tutur Zhao.Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Nature Communications.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

PBB sebut stasiun penelitian Bulan jadi tempat lahirnya talenta antariksa internasional
Indonesia
•
29 Nov 2024

Inisiatif untuk lindungi gletser diluncurkan di Paviliun China dalam COP28
Indonesia
•
04 Dec 2023

Peneliti Indonesia kembangkan senyawa dari kulit manggis untuk terapi kanker payudara
Indonesia
•
21 Jan 2026

Peneliti ciptakan konsep baterai kuantum dengan pengisian daya jarak jauh yang efisien
Indonesia
•
02 Apr 2024


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
