Studi sebut fosil "Little Foot" kemungkinan mengacu pada leluhur manusia yang belum diketahui

Penggalian arkeologi di Liang Bua, gua di perbukitan karst Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang menjadi lokasi penemuan kerangka manusia purba 'Homo floresiensis' pada 2003. (BRIN Indonesia/tangkapan layar/YouTube)
Fosil ‘Little Foot’ menjadi hominin purba paling lengkap yang pernah ditemukan dan berpotensi mengubah pandangan tentang evolusi manusia di Afrika bagian selatan.
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi internasional menyanggah klasifikasi yang telah lama diterima terkait salah satu fosil manusia purba paling lengkap di dunia, sehingga memunculkan kemungkinan adanya leluhur manusia yang belum diketahui.Fosil yang ditemukan di Gua Sterkfontein di Afrika Selatan dan dijuluki "Little Foot" itu secara luas diyakini sebagai anggota genus Australopithecus, entah A. africanus atau A. prometheus, yang merupakan garis keturunan manusia kera yang berjalan tegak dan hidup di Afrika Selatan antara 3 juta hingga 1,95 juta tahun yang lalu, urai rilis media La Trobe University Australia pada Senin (15/12).Namun, artikel telaahan sejawat (peer-reviewed) yang dipublikasikan dalam American Journal of Biological Anthropology menemukan bahwa ‘Little Foot’ tidak memiliki serangkaian ciri unik yang sama dengan kedua spesies tersebut, sehingga memunculkan kemungkinan fosil itu justru merepresentasikan spesies baru, urai rilis media itu."Fosil ini tetap menjadi salah satu penemuan terpenting dalam catatan hominin dan identitas aslinya merupakan kunci untuk memahami masa lalu evolusi kita," tutur Jesse Martin dari La Trobe University dan University of Cambridge Inggris selaku penulis utama studi itu.Tim Martin merupakan pihak pertama yang menyanggah klasifikasi Little Foot sejak pengungkapan klasifikasi spesies fosil tersebut pada 2017. Kerangka yang secara resmi dikenal sebagai StW 573 itu tetap menjadi hominin purba paling lengkap yang pernah ditemukan dan berpotensi mengubah pandangan tentang evolusi manusia di Afrika bagian selatan."Ini kemungkinan besar merupakan kerabat manusia yang selama ini belum teridentifikasi," ujar Martin, sembari menyoroti perlunya upaya taksonomi evolusi manusia yang lebih cermat dan berbasis bukti."(Fosil) ini jelas berbeda dari spesimen tipe A. prometheus, yang penamaannya didasarkan pada anggapan bahwa manusia awal tersebut menggunakan api, yang kini telah kita ketahui tidak benar," tutur Profesor Andy Herries dari La Trobe University.Studi itu dilakukan di bawah hibah Dewan Penelitian Australia (Australian Research Council) yang dipimpin oleh Herries, dan melibatkan tim ilmuwan dari Australia, Afrika Selatan, Inggris, dan Amerika Serikat.Mahasiswa dari La Trobe University kini akan berupaya mengklarifikasi spesies apa yang diwakili oleh ‘Little Foot’ dan posisi spesies tersebut dalam pohon keluarga manusia, urai rilis tersebut.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Pakaian astronaut Feitian generasi kedua dukung 20 kali spacewalk di stasiun luar angkasa China
Indonesia
•
19 Aug 2025

COVID-19 - Taiwan uji vaksin pada manusia musim gugur tahun ini
Indonesia
•
26 May 2020

China restorasi 6,7 juta hektare lahan dalam upaya pemulihan ekologi
Indonesia
•
23 Apr 2024

Sanjiangyuan di China genjot upaya konservasi keanekaragaman hayati
Indonesia
•
05 Jun 2023
Berita Terbaru

Deforestasi dan perubahan pemanfaatan lahan intensifkan gelombang panas global
Indonesia
•
29 Jan 2026

Batu bergagang berusia 70.000 tahun ditemukan, mitos keterlambatan teknologi Asia Timur terpatahkan
Indonesia
•
29 Jan 2026

Palem nyabah di ujung tanduk, BRIN amankan ‘cetak biru genetik’ untuk selamatkan warisan Bali
Indonesia
•
28 Jan 2026

Hingga akhir 2025, stasiun pemancar 5G di China tembus 4,83 juta unit
Indonesia
•
28 Jan 2026
